Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

IDAI: Kegiatan Anak 0 Hingga 18 Tahun Harus Dilakukan Daring

Kamis 24 Jun 2021 13:39 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Andi Nur Aminah

Aisyah Alusa (10), seorang anak yang pernah menjadi pasien Covid-19 yang terpapar dari ibunya (ilustrasi) berada di Rumah Lawan COVID Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (19/1/2021). Aisyah Alusa merupakan seorang anak yang kini hidup sendiri dan yatim piatu karena kedua orang tuanya meninggal dunia akibat Covid-19.

Aisyah Alusa (10), seorang anak yang pernah menjadi pasien Covid-19 yang terpapar dari ibunya (ilustrasi) berada di Rumah Lawan COVID Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (19/1/2021). Aisyah Alusa merupakan seorang anak yang kini hidup sendiri dan yatim piatu karena kedua orang tuanya meninggal dunia akibat Covid-19.

Foto: MUHAMMAD IQBAL/ANTARA
Para orang tua juga harus menghindari membawa anak ke luar rumah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr dr Aman Bhakti Pulungan mengimbau, setiap kegiatan yang melibatkan anak usia 0 hingga 18 tahun harus diselenggarakan secara daring. Khususnya saat ini, ketika kasus harian Covid-19 terus melonjak.

"Jadi, IDAI mengimbau, orang tua atau pengasuh, harus mendampingi anaknya saat aktivitas daring atau luring, kapan lagi orang tua menyayangi anak?" ucapnya saat konferensi pers daring beberapa waktu lalu.

Baca Juga

Dia menambahkan, para orang tua juga harus menghindari membawa anak ke luar rumah, kecuali untuk keperluan mendesak. Imbauan itu dinilainya juga serupa dengan menghindari area dengan ventilasi tertutup saat berkegiatan di luar rumah. "Hindari kontak erat dan mengikuti protokol kesehatan secara disiplin, meskipun di dalam rumah," lanjut dia.

Imbauan itu, kata dia, karena merujuk pada data nasional saat ini di mana proporsi kasus Covid-19 pada anak usia 0-18 tahun mencapai 12,5 persen. Artinya, satu dari delapan kasus Covid-19 di Indonesia adalah anak-anak. "Kedua, data IDAI menunjukkan case fatality ratenya itu adalah tiga hingga lima persen. Jadi, kita ini pasien (anak) paling banyak di dunia," tuturnya.

Dia mengatakan, jumlah itu juga bervariasi setiap pekannya. Terlebih, jika merujuk pada data dinkes di Indonesia yang masih belum merata. Dalam penuturannya, data lengkap Dinkes hanya berasal dari DKI karena tes yang dilakukan secara menyeluruh, berbeda dengan dinkes lainnya yang masih sedikit dalam jumlah tes.

"Jadi, dalam satu hari di DKI, bertambah 661 anak terkonfirmasi. Dan 144-nya balita. Saya sering katakan, 50 persen kematian anak (karena Covid-19) itu balita," ujarnya menjelaskan.

Kekhawatiran dr Aman terus meningkat mengingat ICU khusus anak masih belum tersedia di sebagian besar RS. Bahkan, SDM- nya pun sudah menurun, mulai dari perawat hingga dokter. "Termasuk obat-obat yang khusus, juga banyak tidak tersedia karena tidak ada skemanya di BPJS. Jadi, kita bisa kolaps," ungkap dia.

Dia menambahkan, ke depannya, untuk mencegah berbagai penyakit berbahaya lainnya, perlu dilengkapi imunisasi secara rutin. Termasuk, masyarakat dan pemerintah yang melakukan kerjasama atas pendampingan protokol kesehatan di tempat umum.

"Mari jaga anak-anak Indonesia yang hampir 90 juta, dan lahir setiap tahunnya mencapai lima juta. Penuhi hak anak untuk hidup, juga untuk sehat, demi kehidupan anak cucu kita juga,’’ ungkapnya.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA