Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Putin Tuding AS Dalangi Kerusuhan Ukraina pada 2014

Rabu 23 Jun 2021 14:39 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

 Presiden Rusia Vladimir Putin

Presiden Rusia Vladimir Putin

Foto: AP/Alexander Zemlianichenko/AP Pool
Putin menggambarkan penggulingan Yanukovich sebagai kudeta bersenjata anti-konstitusi

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, Amerika Serikat (AS) adalah dalang dari pemberontakan rakyat yang membuat mantan Presiden Ukraina Viktor Yanukovich dipaksa turun dari jabatannya pada 2014. Putin mengatakan, tindakan itu adalah hasil dari "kudeta" yang diatur oleh AS dan didukung oleh sekutunya di Eropa.

Putin menulis op-ed di surat kabar Jerman, Die Zeit untuk menandai peringatan 80 tahun invasi Jerman ke Uni Soviet selama Perang Dunia II, yang diterbitkan Selasa (22/6). Dalam tulisan tersebut, Putin menggambarkan penggulingan Yanukovich sebagai kudeta bersenjata anti-konstitusional. Putin mengatakan, dinamika pasca-Perang Dingin membuat negara-negara dihadapkan pada “pilihan buatan" antara berpihak pada Barat atau Rusia. Hal itu telah membuat tragedi Ukraina.

Baca Juga

“Mengapa Amerika Serikat mengorganisir kudeta, dan mengapa negara-negara Eropa dengan lemah mendukungnya, memprovokasi perpecahan di Ukraina sendiri dan penarikan Krimea?," ujar Putin. “Sekarang seluruh sistem keamanan Eropa telah terdegradasi secara serius. Ketegangan meningkat, dan risiko perlombaan senjata baru menjadi nyata," ujarnya.

Moskow telah lama menuduh AS mengobarkan gejolak di Ukraina. Ketegangan Ukraina dengan Rusia telah meningkat sejak Yanukovich, yang merupakan seorang pemimpin pro-Kremlin disingkirkan. Setelah Yanukovich disingkirkan pada Februari 2014, Rusia mencaplok wilayah Laut Hitam Krimea dan memberikan dukungannya kepada pejuang separatis ketika konflik bersenjata meletus di timur Ukraina. 

Dalam opininya, Putin mengatakan Rusia dan kekuatan Eropa telah kehilangan peluang besar untuk menjalin kerja sama karena hubungan dingin mereka. Dalam artikel di surat kabar Jerman tersebut, Putin menekankan bahwa Rusia mendorong pemulihan kemitraan yang komprehensif dengan Eropa. Putin mengatakan, Moskow dan ibu kota Eropa lainnya dapat bekerja sama dalam sejumlah masalah yang menjadi kepentingan bersama, termasuk keamanan, energi, teknologi, dan lingkungan. 

“(Kerja sama) sangat penting sekarang, ketika kita semua dihadapkan pada tantangan bersama yaitu pandemi dan konsekuensi sosial-ekonomi yang mengerikan,” tulis Putin dalam artikel tersebut.

Dalam pertemuan dengan Presiden AS Joe Biden, Putin telah mengatakan bahwa terobosan besar tidak mungkin terjadi jika hubungan antara Rusia dan Barat pada posisi terendah pasca-Perang Dingin. Keduanya berkomitmen untuk meletakkan dasar bagi perjanjian pengendalian senjata di masa depan, dan menempatkan kembali duta besar mereka masing-masing. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA