Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Percepatan Vaksinasi Jadi Fokus Program Presiden Baru Iran

Rabu 23 Jun 2021 13:45 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih

Presiden terpilih Iran Ebrahim Raisi tiba pada konferensi pers pertamanya setelah memenangkan pemilihan presiden, di Teheran, Iran, 21 Juni 2021. Raisi mengatakan bahwa pemerintahnya akan mengikuti negosiasi nuklir dengan kekuatan dunia tetapi tidak untuk waktu yang lama, menambahkan bahwa AS harus mencabut sanksi dan kembali ke kesepakatan JCPOA.

Presiden terpilih Iran Ebrahim Raisi tiba pada konferensi pers pertamanya setelah memenangkan pemilihan presiden, di Teheran, Iran, 21 Juni 2021. Raisi mengatakan bahwa pemerintahnya akan mengikuti negosiasi nuklir dengan kekuatan dunia tetapi tidak untuk waktu yang lama, menambahkan bahwa AS harus mencabut sanksi dan kembali ke kesepakatan JCPOA.

Foto: EPA-EFE/ABEDIN TAHERKENAREH
Iran percepat vaksinasi guna menggeliatkan kembali kegiatan perekonomian

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Presiden baru Iran Ebrahim Raisi mengatakan percepatan vaksinasi Covid-19 akan jadi fokus pemerintahannya mendatang. Hal itu guna menggeliatkan kembali kegiatan perekonomian.

"Percepatan vaksinasi umum akan menjadi salah satu program langsung kami sejak hari pertama pemerintahan," kata Raisi dalam pidatonya di kota Mashdad yang disiarkan televisi pemerintah pada Selasa (22/6), dikutip laman Middle East Monitor.

Untuk kebutuhan tersebut, pemerintahan Raisi hendak mengoptimalkan produksi vaksin dalam negeri dan impor vaksin. “Sehingga orang akan merasa nyaman dan ekonomi akan berkembang,” ujarnya.

Menurut juru bicara pemerintahan Iran saat ini, yakni Ali Rabiei, negara tersebut fokus menggunakan vaksin Covid-19 produksi lokal, termasuk Sputnik V buatan Rusia dan vaksin yang diproduksi bersama dengan Kuba. “Vaksin Sputnik V produksi dalam negeri akan masuk vaksinasi umum mulai pekan depan,” ucapnya.

Sementara vaksin Pasteurcovac, yang dikenal sebagai Soberana 2 di Kuba, diharapkan akan dilisensikan untuk penggunaan umum pekan ini di Iran. Menurut juru bicara Kementerian Kesehatan Iran Kianush Jahanpur, vaksin bersama Iran-Kuba telah diterima 24 ribu warga di sana dalam uji klinis. Kuba mengatakan vaksin tersebut terbukti 62 persen efektif hanya dengan dua dari tiga dosisnya.

Pemerintahan Presiden Iran Hassan Rouhani telah menghadapi kritik karena upaya vaksinasi Covid-19 yang lambat. Posisinya sebagai presiden bakal digantikan Raisi pada Agustus mendatang.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA