Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Studi: Vaksin AstraZeneca Efektif Lawan Varian Delta-Kappa

Rabu 23 Jun 2021 09:32 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Tabung vaksin Covid-19 Astrazeneca. Ilustrasi.

Tabung vaksin Covid-19 Astrazeneca. Ilustrasi.

Foto: Republika/Thoudy Badai
Studi yang dilakukan Universitas Oxford menyelidiki efektivitas vaksin AstraZeneca

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Vaksin Covid-19 AstraZeneca efektif terhadap varian Delta dan Kappa yang pertama kali diidentifikasi di India. Studi yang dilakukan Universitas Oxford menyelidiki kemampuan antibodi monoklonal dalam darah dari orang yang pulih dan dari mereka yang divaksinasi untuk menetralkan varian Delta dan Kappa.

Pekan lalu, analisis oleh Public Health England (PHE) menunjukkan vaksin yang dibuat oleh Pfizer dan AstraZeneca menawarkan perlindungan lebih dari 90 persen terhadap varian Delta. Hasil studi Oxford terbaru dibangun berdasarkan analisis terbaru oleh PHE.

Varian Delta dari Covid-19 yang pertama kali diidentifikasi di India, telah menyebar dan menjadi varian penyakit yang dominan secara global. Sebelumnya Kepala Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan mengatakan varian Delta sangat mudah menular sehingga membutuhkan vaksin baru yang lebih efektif.

"Varian Delta sedang dalam perjalanan untuk menjadi varian dominan secara global karena peningkatan transmisibilitasnya," kata Swaminathan.

Swaminathan juga menyuarakan kekecewaan atas kegagalan kandidat vaksin CureVac dalam uji coba untuk memenuhi standar kemanjuran WHO. CureVac melaporkan vaksinnya hanya terbukti 47 persen efektif dalam mencegah Covid-19. Hal ini masih jauh dari patokan WHO yaitu 50 persen.

CureVac telah mendokumentasikan setidaknya 13 varian Covid-19 dalam penelitiannya. Vaksin mRNA dari Pfizer dan BioNTech, serta Moderna memiliki tingkat kemanjuran mencapai 90 persen. Swaminathan mengatakan dunia mengharapkan efektivitas CureVac bisa meningkat.

“Hanya karena ini adalah vaksin mRNA yang lain, kami tidak dapat menganggap semua vaksin mRNA itu sama, karena masing-masing memiliki teknologi yang sedikit berbeda,” kata Swaminathan.

Pejabat WHO menyebut Afrika tetap menjadi area yang menjadi perhatian, meskipun hanya menyumbang sekitar lima persen dari infeksi global baru dan dua persen kematian. Kepala Program Kedaruratan WHO Mike Ryan mengatakan kasus baru di Namibia, Sierra Leone, Liberia, dan Rwanda telah berlipat ganda pada pekan lalu.

"Ini lintasan yang sangat, sangat memprihatinkan bahwa realitasnya adalah di tengah peningkatan penularan varian baru, kami telah meninggalkan sebagian besar populasi rentan Afrika yang tidak terlindungi oleh vaksin," kata Ryan.

Inggris telah melaporkan peningkatan tajam dalam infeksi dengan varian Delta. Sementara pejabat kesehatan masyarakat Jerman memperkirakan varian Delta dengan cepat menjadi varian yang dominan meskipun tingkat vaksinasi meningkat.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA