Friday, 27 Zulhijjah 1442 / 06 August 2021

Friday, 27 Zulhijjah 1442 / 06 August 2021

Kondisi Jakarta, 20-30 Pasien Covid Harus Antre Dirawat

Rabu 23 Jun 2021 05:21 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Indira Rezkisari

Pasien COVID-19 menaiki bus Sekolah yang akan membawa mereka menuju Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet di Puskesmas Kecamatan Menteng, Jakarta, Ahad (20/6). Laju kasus harian Covid-19 di Indonesia beberapa hari terakhir dalam tren menanjak, Hal ini membuat angka 2 juta kasus infeksi Covid-19 di Indonesia berada di depan mata.Prayogi/Republika.

Pasien COVID-19 menaiki bus Sekolah yang akan membawa mereka menuju Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet di Puskesmas Kecamatan Menteng, Jakarta, Ahad (20/6). Laju kasus harian Covid-19 di Indonesia beberapa hari terakhir dalam tren menanjak, Hal ini membuat angka 2 juta kasus infeksi Covid-19 di Indonesia berada di depan mata.Prayogi/Republika.

Foto: Prayogi/Republika.
BOR Jakarta penuh, Persi khawatir RS tidak bisa merawat pasien baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus Covid-19 di Tanah Air melonjak dan berimbas pada keterisian tempat tidur (BOR) di beberapa provinsi termasuk Jakarta hampir penuh. Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) khawatir jika kondisi ini terus terjadi hingga sepekan mendatang, rumah sakit (RS) tidak bisa merawat pasien baru.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi), Lia G Partakusuma, mengatakan, BOR di Jakarta kini mencapai 86 persen. Tak hanya Jakarta, ia menyebutkan BOR di Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng) juga mendekati 90 persen.

"Kalau kondisi sekarang tidak berubah hingga sepekan mendatang, maka RS tidak bisa merawat pasien baru. Kami hanya bisa merawat dan memberi pelayanan kesehatan yang suda dirawat di rumah sakit," ujarnya saat dihubungi Republika, Selasa (22/6).

Ia menambahkan, pasien yang dirawat tidak berubah membuat kondisi di RS stagnan. Ia menambahkan, pasien baru yang akan berobat maksimal hanya bisa dirawat di instalasi gawat darurat (IGD).  

Padahal, dia menambahkan, fasiitas di IGD terbatas. Tak hanya itu, dia melanjutkan, pasien yang datang ke rumah sakit harus mengantre sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan.

Lia menyebutkan di Jakarta, sebanyak 20-30 orang harus antre terlebih dahulu untuk masuk RS dan dirawat sebagai pasien Covid-19. Bahkan, banyaknya antrean, membuat beberapa rumah sakit sampai terpaksa memasang tenda.

"Kalau mereka (calon pasien) berusaha masuk tetapi tidak bisa, dirujuk juga tidak bisa karena penuh juga sehingga menunggu di tenda atau IGD dengan fasilitas seadanya,"  katanya.

Antrean juga diakuinya menimbulkan masalah lain. Meski RS sudah memisahkan antrean Covid-19 dengan yang tidak terinfeksi virus ini, dikhawatirkan ada strain yang lain. Kemudian, dia melanjutkan, kalau tidak berhati-hati maka bisa menularkan ke yang lain, seperti tenaga kesehatan (nakes). Selain itu, di antara calon pasien Covid-19 yang antre menunggu hasil tes ternyata negatif hasilnya bisa saja tertular strain virus karena antrean yang menimbulkan kerumunan.

"Kalau tidak ada penyakit penyerta (komorbid) memang bisa tidak tertular tetapi orang yang datang ke rumah sakit rata-rata daya tahan tubuhnya sudah turun," ujarnya.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA