Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Saran IDAI Bagi Sekolah yang Gelar Tatap Muka

Selasa 22 Jun 2021 08:17 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Nora Azizah

Varian baru Covid-19 jadi pertimbangan penerapan sekolah tatap muka.

Varian baru Covid-19 jadi pertimbangan penerapan sekolah tatap muka.

Foto: Edi Yusuf/Republika
Varian baru Covid-19 jadi pertimbangan penerapan sekolah tatap muka.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah situasi Covid-19 yang kembali melonjak, pemberlakuan sekolah tatap muka tetap berjalan di sebagian tempat. Kendati dilakukan terbatas, hal itu dinilai tetap memiliki risiko kesehatan.

Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A (K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengatakan memang sekolah tatap muka belum disarankan oleh IDAI. Munculnya varian baru menjadi pertimbangan kenapa sekolah tatap muka belum bisa direkomendasikan.

Meski begitu, IDAI memberikan beberapa syarat sekolah bisa dibuka kembali untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka. Saat pertengahan 2020, WSO mengemukakan persyaratan  untuk dibukanya kembali sekolah, salah satunya adalah terkendalinya transmisi di daerah ketika positivity rate dari pemeriksaan swab PCR itu sudah rendah, kurang dari 5 persen.

“Kemudian angka kematian menurun, dan sepanjang ini kita jarang sekali mencapai positivity rate kurang dari 5 persen, selalu positivity rate kita sangat tinggi, padahal kalau kita bandingkan dengan jumlah tes nya, Indonesia juga masih sangat rendah, sehingga ini masih menjadi masalah,” kata Nastiti dalam acara bersama Dompet Dhuafa, belum lama ini.

Dia memaparkan perkembangan Covid-19 pada anak. Menurut dia, per tanggal 17 Juni, angka kasusnya sudah 1,95 juta yang meninggal itu ada 53.753.

“Jadi angka case fatality rate atau angkat kefatalan dari pasien Covid-19 jika terkena Covid-19 untuk bisa meninggal itu 2,8 persen, nah ada data mengenai spesimen yang diperiksa dan juga mengenai data vaksinasi,” katanya.

Angka cakupan vaksinasi Covid-19 juga masih rendah. Dari data persebaran covid-19, terlihat usia 0-18 tahun dengan jumlah 12,5 persen, atau satu dari delapan pasien covid adalah anak-anak. Apabila dihitung dari 1,95 juta, itu sudah hampir 250 ribu anak yang terkena Covid-19 dan berapa yang meninggal.

“Yang meninggal kontribusinya kecil hanya 1,2 persen dari keseluruhan kasus meninggal kalau dihitung tadi, kasus meninggalnya ada 53 ribu maka ada 645 anak usia dibawah 18 tahun meninggal karena Covid-19,” ujar Nastiti.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA