Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Menlu Israel Dijadwalkan Berkunjung ke UEA Pekan Depan

Selasa 22 Jun 2021 06:30 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Menlu Israel Yair Lapid. Ilustrasi.

Menlu Israel Yair Lapid. Ilustrasi.

Foto: Arabnews.com
Ini adalah kunjungan pertama diplomat tinggi Israel ke UEA usai normalisasi hubungan

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Menteri luar negeri Israel yang baru diangkat, Yair Lapid, akan berkunjung ke Uni Emirat Arab (UEA) pekan depan. Ini adalah kunjungan pertama diplomat tinggi Israel ke UEA setelah normalisasi hubungan antara kedua negara tahun lalu.

Dilansir Aljazirah, Kementerian Luar Negeri Israel pada Senin (21/6) mengatakan Lapid akan mengunjungi UEA pada 29-30 Juni. Dalam kunjungan itu, Lapid akan meresmikan kedutaan besar Israel di Abu Dhabi dan konsulat di Dubai.

September lalu, UEA telah menandatangani sejumlah kesepakatan bisnis dengan Israel. Kedua pihak sepakat untuk mengabaikan persyaratan visa bagi warga negara masing-masing dan menandatangani sejumlah perjanjian bilateral tentang investasi, pariwisata, penerbangan langsung, keamanan, dan telekomunikasi.

UEA adalah negara Teluk Arab pertama yang mengumumkan normalisasi hubungan dengan Israel. Negara Arab lainnya yang menormalisasi hubungan dengan Israel yaitu Bahrain, Maroko, dan Sudan. Mereka menjalin hubungan diplomatik dengan Israel di bawah Abraham Accord yang ditengahi oleh mantan presiden AS Donald Trump.

Tak lama setelah kesepakatan tercapai, pemerintahan Trump mengizinkan penjualan 50 jet tempur F-35 canggih ke UEA. Penjualan itu menjadikan UEA sebagai negara kedua di Timur Tengah yang memiliki jet temput F-35 setelah Israel.

Pemerintah baru di Israel dan AS mengatakan mereka berharap dapat mencapai kesepakatan serupa dengan negara-negara Arab lainnya.  Sebelum pemerintahan Trump membuat Abraham Accord, satu-satunya negara Arab yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel adalah Mesir dan Yordania.

Abraham Accord mematahkan konsensus yang dicapai di antara sebagian besar negara Arab. Konsensus tersebut mengatakan pengakuan resmi atas Israel bergantung pada akhir pendudukan wilayah Palestina dan pembentukan solusi dua negara.

Palestina telah mengutuk normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan Israel. Palestina menyebut normalisasi hubungan itu adalah pengkhianatan besar oleh negara-negara Arab dan merusak upaya Palestina untuk merdeka.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA