Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Epidemiolog: Lockdown Hentikan Penyebaran Varian Baru

Senin 21 Jun 2021 19:17 WIB

Red: Ani Nursalikah

Epidemiolog: Lockdown Hentikan Penyebaran Varian Baru. Satgas Covid-19 menginterogasi warga yang akan keluar saat karantina wilayah di Pedukuhan Ngino XII, Seyegan, Sleman, Yogyakarta, Jumat (18/6). Sebanyak 250 KK dari empat RT harus menjalani karantina wilayah usai ada warga positif Covid-19 pascaziarah. Satgas Covid-19 Kalurahan Margoagung berjaga di gerbang masuk desa untuk melarang warga keluar lokasi.

Epidemiolog: Lockdown Hentikan Penyebaran Varian Baru. Satgas Covid-19 menginterogasi warga yang akan keluar saat karantina wilayah di Pedukuhan Ngino XII, Seyegan, Sleman, Yogyakarta, Jumat (18/6). Sebanyak 250 KK dari empat RT harus menjalani karantina wilayah usai ada warga positif Covid-19 pascaziarah. Satgas Covid-19 Kalurahan Margoagung berjaga di gerbang masuk desa untuk melarang warga keluar lokasi.

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Lockdown agar penyebaran varian baru yang sangat menular bisa dicegah meluas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono merekomendasikan untuk dilakukannya karantina (lockdown) wilayah untuk menghentikan penyebaran  Covid-19, khususnya varian baru seperti varian Delta dari India. "Ada upaya-upaya pencegahan penyebaran varian baru harusnya dilakukan penguncian atau lockdown untuk penyebaran varian baru ini baik itu di Kudus, Bangkalan, Madura, Jakarta, dan sebagainya," kata Yunis, Senin (21/6).

Beberapa waktu ini dilaporkan jumlah kasus terinfeksi Covid-19 yang semakin meningkat. Itu tentu menjadi perhatian utama, apalagi ada penularan yang jauh lebih cepat dari varian baru seperti B1617.2 atau varian Delta dari India.

Baca Juga

Yunis menuturkan varian virus Covid-19 yang pertama kali muncul menularkan hanya ke dua orang, namun varian baru sekarang ini bisa menularkan ke empat atau delapan orang sehingga potensi penularannya di tengah masyarakat makin tinggi dan berdampak pada peningkatan kasus. "Oleh karena itu, harus dilakukan lockdown," ujarnya.

Yunis mengatakan lockdown tersebut bukan hanya untuk menurunkan kasus Covid-19 semata, tapi agar penyebaran varian baru yang sangat menular bisa dicegah meluas. "Kalau ada ditemukan kasus baru dengan varian baru yang banyak kayak di Kudus maka harus dilakukan lockdown, di Bangkalan harus lakukan lockdown kabupaten, terus Jakarta apakah kotamadya atau provinsi harus lihat sebarannya," ujarnya.

Ketika ditemukan banyak muncul kasus dengan varian baru, Yunis menuturkan harus secepatnya dilakukan karantina untuk menghentikan penyebaran varian baru. "Lockdown lihat sebarannya kalau sudah banyak (kasus) kecamatannya maka lockdown-nya kabupaten," ujarnya.

Dia menuturkan pemerintah perlu meningkatkan pembiayaan atau dana untuk penanganan Covid-19. Dana itu, diantaranya untuk melakukan percepatan pengujian deteksi Covid-19, pengurutan genom menyeluruh (whole genom sequencing), serta subsidi kepada masyarakat ketika akan dilakukan lockdown.

"Kalau kita masih seperti lama strategi perangnya tunggu saja pasti akan terjadi kewalahan dari pelayanan kesehatan," ujar Yunis.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA