Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Varian Delta Belum Terdeteksi, Bukan Berarti Belum Ada

Senin 21 Jun 2021 17:00 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan / Red: Hiru Muhammad

Papan peringatan menjaga jarak dipasang di pintu masuk Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Senin (21/6). Pemerintah Yogyakarta mewacanakan karantina wilayah DIY. Hal ini imbas dari melonjaknya kasus positif Covid-19 dalam sepekan terakhir. Namun wacana dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X ini belum menjadi keputusan final. Masih menunggu perkembangan apakah masih terus melonjak kasus Covid-19.

Papan peringatan menjaga jarak dipasang di pintu masuk Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Senin (21/6). Pemerintah Yogyakarta mewacanakan karantina wilayah DIY. Hal ini imbas dari melonjaknya kasus positif Covid-19 dalam sepekan terakhir. Namun wacana dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X ini belum menjadi keputusan final. Masih menunggu perkembangan apakah masih terus melonjak kasus Covid-19.

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Dikhawatirkan varian Delta sudah ada di DIY mengingat lonjakan kasus sepekan lebih

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA--Ketua Kelompok Kerja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Gunadi menyebut, Varian Covid-19 Delta belum terdeteksi di DIY. Namun, ia menegaskan bukan berarti Varian Delta ini belum ada di DIY.

"Sampai saat ini belum terdeteksi, bukan berarti belum ada," kata Gunadi di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Senin (21/6).

Gunadi menyebut, pihaknya baru akan melakukan genomic sequencing terhadap sampel yang ada selama Juni 2021. Dikhawatirkan sudah ada Varian Delta di DIY, mengingat lonjakan kasus yang terjadi di lebih sepekan ini.

"Kita sudah koordinasi dengan Bu Pembayun (Kepala Dinkes DIY) untuk sampel-sampel yang Juni melonjak tajam 400, 500 bahkan 600. Sampel-sampel itu mungkin bisa kita ambil, kita running dulu sampai ada bukti genom sequencing-nya. Kalau belum ada kita belum bisa mengatakan itu sudah masuk atau belum di Yogyakarta," ujar Gunadi yang juga Ketua Tim Peneliti WGS SARS-CoV-2, FKKMK UGM tersebut.

Gunadi menuturkan, pihaknya tidak hanya akan sampel dari kasus yang ada di DIY. Namun, pihaknya juga diminta oleh Kementerian Kesehatan untuk membantu memeriksa sampel dari Solo, Jawa Tengah.

Di Solo, katanya, tren penularan Covid-19 terjadi di anak-anak yang berusia di bawah lima tahun hingga berusia 18 tahun. Sehingga, dikhawatirkan anak-anak juga rentan dengan Varian Delta.

"Tren meningkat di anak-anak, anak-anak bisa jadi sumber penularan. Hipotesisnya begitu, jangan-jangan anak-anak rentan dengan Varian Delta," jelasnya.

Saat ini, pihaknya sudah menerima beberapa sampel genome dari DIY. Sementara, pihaknya juga masih menunggu sampel genome dari Solo.

Dengan begitu, pemeriksaan sampel genome ini belum dapat dilakukan hingga keseluruhan sampel tercukupi. Setidaknya, kata Gunadi, dikumpulkan 48 sampel genome untuk dapat diperiksa.

"Baru bisa di-running kalau sudah komplit 48 sampel, boleh di-running 20 tapi sisanya sayang, habis itu tidak bisa dipakai. Kita belum bisa memastikan kapan (diperiksa), mungkin dua atau tiga pekan karena sampel dari Solo belum kita terima, yang sampel DIY sebagian sudah masuk," kata Gunadi.

 

 

 

Silvy Dian Setiawan

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA