Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Separuh Sungai Bumi Berhenti Mengalir Setiap Tahun

Selasa 22 Jun 2021 12:23 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Dwi Murdaningsih

Sebuah perahu bermotor kecil (ces) melewati kawasan Sungai Teweh (anak Sungai Barito) yang menyempit akibat penurunan debit air di kawasan Kelurahan Jambu, Kecamatan Teweh Baru, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. (ilustrasi)

Sebuah perahu bermotor kecil (ces) melewati kawasan Sungai Teweh (anak Sungai Barito) yang menyempit akibat penurunan debit air di kawasan Kelurahan Jambu, Kecamatan Teweh Baru, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. (ilustrasi)

Foto: Antara/Kasriadi
Pemanasan global dan perubahan penggunaan lahan menghentikan aliran lebih banyak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ilmuwan menemukan setidaknya 51 persen dari semua sungai di seluruh dunia berhenti mengalir setidaknya satu hari per tahun. Hal ini dinilai harus mendapat perhatian karena bisa berdampak luas.

Di iklim yang lebih dingin, sungai dapat membeku untuk sementara. Di iklim yang lebih hangat, air dapat menguap untuk menghentikan aliran. Di Australia, misalnya, 70 persen sungai dianggap tidak mengalir sepanjang hari.

Baca Juga

Ini adalah pertama kalinya para peneliti mencoba memetakan semua saluran air yang tidak mengalir di dunia. Hasilnya, ternyata ada di mana-mana.

Hampir setiap jaringan sungai di bumi memiliki saluran secara berkala berhenti mengalir. Sungai atau aliran terdekat untuk lebih dari setengah populasi dunia berhenti mengalir di beberapa titik dalam setahun.

“Sungai dan aliran air yang tidak abadi adalah ekosistem yang sangat berharga karena merupakan rumah bagi banyak spesies berbeda yang disesuaikan dengan siklus ada dan tidaknya air,” kata ekohidrologi Mathis Messager dari McGill University di Kanada, dilansir dari Science Alert, Ahad (20/6).

Sungai terputus-putus dan alirannya sesaat bergabung untuk menciptakan saluran air yang jauh lebih besar, yang merupakan sumber utama air tawar di seluruh dunia. Hulu sungai membantu mengisi ulang air tanah, mengurangi polusi dan menyediakan habitat penting bagi flora dan fauna. Waktu aliran sungai menjadi faktor penting dalam berbagai kegiatan lingkungan.

Mengabaikan mereka, kata para peneliti, adalah sebuah kesalahan, terutama di masa perubahan iklim yang cepat. Selama 50 tahun terakhir, pemanasan global dan perubahan penggunaan lahan telah menghentikan aliran lebih banyak sungai dan aliran. Bahkan sebagian Sungai Nil di Mesir, Indus di Asia, Sungai Kuning di China dan Sungai Colorado di Amerika Utara sudah mulai mengalami berhenti dan mulai mengalir.

“Mengingat perubahan global yang berkelanjutan, sebagian besar jaringan sungai global diperkirakan akan berhenti mengalir secara musiman selama beberapa dekade mendatang,” para penulis memperingatkan.

Tempat-tempat di mana kekeringan meningkat sangat berisiko mengalami penurunan aliran sungai. Di daerah panas dan kering seperti India, Australia sebelah utara dan Afrika khatulistiwa, para peneliti menemukan 95 persen sungai dan aliran sungai sudah terputus-putus.

Bahkan asal utama sungai besar seperti Sungai Niger di Afrika Barat dan Godavari di India dapat mengering dalam kondisi yang tepat. Mengingat hasil ini, penulis menyerukan perubahan paradigma dalam penelitian dan konservasi sungai. Mereka mengatakan kita perlu memasukkan sungai dan aliran non-perennial ke dalam studi kita dan memberi mereka perlindungan yang sama seperti sungai yang terus mengalir.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA