Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Indef: Tapering Off Tambah Tekanan bagi Dunia Usaha

Ahad 20 Jun 2021 18:18 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Lida Puspaningtyas/ Red: Dwi Murdaningsih

Pergerakan di pasar modal (ilustrasi)

Pergerakan di pasar modal (ilustrasi)

Foto: Zawya.com
Tapering off The Fed kemungkinan tidak akan terjadi tahun ini,

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Institute for Development of Economics and Finance (Indef) melihat kebijakan tapering off oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed, akan memberikan efek samping bagi dunia usaha. Sebab, dunia usaha saat ini juga tengah berjuang untuk terlepas dari dampak resesi.  Tapering off adalah pengurangan stimulus berupa pembelian surat berharga. 

"Bagi dunia usaha ini (tapering off) tentu bukan berita bagus, di saat ekonomi belum keluar dari resesi, rencana ini menambah tekanan ketidakpastian di dunia usaha," kata Wakil Direktur Indef, Eko Listiyanto, kepada Republika.co.id, Ahad (20/6). 

Baca Juga

Secara umum, menurut Eko, kebijakan penarikan stimulus ini dampaknya akan lebih minim jika dilakukan secara bertahap. Meski demikian, dalam jangka pendek isu ini tetap akan diwaspadai oleh pelaku pasar keuangan dan pasar modal.

Eko meyakini dampak dari kebijakan The Fed ini sudah masuk perhitungan pelaku pasar (price in). Namun isu tapering off ini tetap harus diwaspadai dan menjadi perhatian. Pemerintah perlu melakukan antisipasi, terutama terkait dampak jangka pendek yang dapat membuat pasar bergerak volatil.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan tapering The Fed kemungkinan tidak akan terjadi tahun ini, melainkan tahun 2022 dan kenaikan suku bunganya pada 2023. Inflasi AS diperkirakan akan mengalami tekanan tahun ini namun hanya sementara. Tekanan inflasi secara fundamental diperkirakan baru terjadi tahun 2022-2023.

Dari proyeksi ini BI melihat tingkat pengangguran AS masih di atas target jangka panjangnya. Sehingga AS akan mengarahkan kebijakan moneternya untuk menurunkan tingkat pengangguran tersebut.

Perry mengatakan, The Fed akan tetap akomodatif dalam kebijakan moneter dan beranggapan masih terlalu dini untuk tapering off. Diperkirakan hal tersebut akan dilakukan tahun depan, mulai dari pengurangan quantitative easing dan pembelian surat berharga di kuartal I 2022.

"Kami melihat tapering The Fed tidak akan terjadi tahun ini, tapi kami tetap terus pantau segala hal yang bisa membuat perubahan," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA