Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Ebrahim Raisi Terpilih Jadi Presiden Iran

Sabtu 19 Jun 2021 16:15 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih

Ebrahim Raisi terpilih jadi presiden Iran. Ilustrasi.

Ebrahim Raisi terpilih jadi presiden Iran. Ilustrasi.

Foto: presstv
Ulama ultrakonservatif Iran Ebrahim Raisi memenangkan pemilihan presiden Iran

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Ulama ultrakonservatif Iran Ebrahim Raisi memenangkan pemilihan presiden Iran, Sabtu (19/6). Dia menghimpun 62 persen suara.

Dari 28,6 juta surat suara terhitung, sebanyak 17,8 juta di antaranya memilih Raisi. Sementara pesaingnya, Mohsen Rezai, meraih 3,3 juta suara. Ucapan selamat pun mengalir untuk Raisi.

Meski dikalahkan, Rezai tetap mengucapkan selamat kepada Raisi. Dia berharap Raisi dapat membangun pemerintahan yang kuat dan populer guna menyelesaikan berbagai masalah Iran.

Kandidat capres ultrakonservatif lainnya yakni Amirhossein Ghazizadeh melakukan hal serupa. “Saya mengucapkan selamat, Raisi, dipilih oleh bangsa,” katanya melalui akun Twitter pribadinya dikutip laman Al Arabiya.

Satu-satunya tokoh reformis yang turut berpartisipasi dalam pilpres Iran, yakni Abdolnasser Hemmati, turut mengucapkan selamat kepada Raisi. Sementara Presiden Iran Hassan Rouhani menyampaikan selamat kepada rakyat Iran.

“Saya mengucapkan selamat kepada rakyat atas pilihan mereka. Ucapan selamat resmi saya akan menyusul, tapi kita tahu siapa yang mendapat cukup suara dalam pemilihan ini dan siapa yang dipilih oleh rakyat,” kata Rouhani.

Rouhani diketahui tak diperkenankan berpartisipasi lagi dalam pilpres Iran sebab dia sudah menjabat sebagai presiden selama tiga periode. Beberapa tugas penting telah menunggu Raisi jika nanti dilantik. Hal itu terutama berkaitan dengan penanganan ekonomi yang kian memburuk akibat sanksi Amerika Serikat (AS) dan pandemi.

Raisi juga harus mengerahkan upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). JCPOA retak setelah mantan presiden AS Donald Trump menarik Washington dari kesepakatan tersebut.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA