Sabtu 19 Jun 2021 03:11 WIB

Pengembang Sasar Konsumen Milenial

Pasar milenial dalam industri properti merupakan segmen pasar yang cukup besar

Webinar dengan tema PCR (Property Cuan Rising) yang diadakan di Dave Apartment Depok.
Foto: .
Webinar dengan tema PCR (Property Cuan Rising) yang diadakan di Dave Apartment Depok.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Kondisi pasar properti pada semester kedua tahun ini diyakini bakal membaik. Pasar milenial dalam industri properti dinilai sebagai segmen pasar yang cukup besar sebagai pembeli rumah pertama.

Peluang pangsa pasar milenial itu termasuk yang menjadi incaran PT Diamond Citra Propertindo Tbk (Diamond Land Development). Marketing Director Diamond Land Development Tony Hartono mengatakan perusahaan selalu mengikuti perkembangan dan kebutuhan pasar.

Menurut Tony, proyek-proyek properti dipasarkan dengan harga beragam. Ada yang seharga Rp 150 juta per unit hingga miliaran rupiah dengan produk yang berbeda-beda mulai dari landed house, apartemen, town house, aparthouse hingga condovilla.

Produk Diamond Land dengan harga Rp 150 jutaan dikembangkan untuk menyasar segmen milenial. “Kita pun memberikan kemudahan dalam pola bayar sehingga lebih memudahkan bagi konsumen milenial,” ujarnya. Tony menyampaikan itu dalam acara webinar yang diselenggarakan Jum’at (18/6) dengan tema PCR (Property Cuan Rising) yang diadakan di Dave Apartment Depok yang merupakan salah satu proyek pengembang nasional ini.

Dalam pengembangan proyeknya, Diamond Land Development memiliki karakter dan konsep produk yang berbeda. Saat ini perusahaan sedang menggarap 15 proyek di berbagai lokasi, Jakarta dan sekitarnya. 

Wakil Ketua DPP Asosiasi Real Estat Broker Indonesia (AREBI) Nurul Yaqin mengatakan penjualan properti dengan harga mulai dari Rp 150 juta merupakan langkah yang sangat tepat untuk mendorong milenial membeli properti. Milenial dapat diarahkan pula sebagai investor dengan membeli dalam lebih dari satu unit dengan harga yang sangat terjangkau itu. “Untuk milenial yang baru pertama membeli properti, jangan diberikan properti harga miliaran,” ujarnya.

Ia melihat pasar milenial dalam industri properti merupakan segmen pasar yang cukup besar sebagai pembeli rumah pertama. Saat ini milenial harus disadarkan karena developer tidak mau menawarkan harga yang susah dijangkau. Dan milenial harus melihat ini sebagai peluang investasi karena selepas pandemi Covid-19 harga akan terkerek naik.

“Ada harga yang terpendam sehingga nanti langsung melonjak setelah selesai pandemi. Dengan demikian, sekarang ini memang menjadi waktu yang tepat untuk berinvestasi di properti,” kata Nurul Yaqin.

Terkait pembiayaan untuk milenial, Senior Vice President Non Subsidized Mortgage & Personal Lending Division PT Bank Tabungan Negara Tbk, Suryanti Agustinar, menyarankan agar milenial melihat properti sebagai investasi yang pada awalnya bisa difungsikan sebagai tempat tinggal (end-user). BTN pun terus memacu bisnisnya yang fokus pada pembiayaan properti. 

Bank BTN, ujar Suryanti, kini juga siap untuk membiayai mereka yang bermasud menginvestasikan dana di properti. Dia juga menyarankan pembeli properti memilih produk yang dibangun oleh developer yang telah bekerja sama dengan perbankan. 

“Selain itu, saat ini pemerintah pun memberikan kemudahan untuk pembelian properti. Tidak hanya dalam persyaratan tapi juga kemudahan uang muka hingga keringanan pajak-pajak di sektor properti,” jelasnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement