Jumat 18 Jun 2021 16:39 WIB

Prokes dan Percepatan Vaksin Hentikan Transmisi Varian Delta

Varian Delta berpotensi menginfeksi lebih banyak orang.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Hiru Muhammad
Pemeriksaan kesehatan warga sebelum vaksinasi Covid-19 massal di Kantor Lurah Desa Gadingsari, Bantul, Yogyakarta, Rabu (16/6). Sebanyak 475 orang warga Desa Gadingsari mendapatkan vaksinasi Covid-19, dan mayoritas dari warga lanjut usia. Kini vaksinasi Covid-19 sudah mulai kawasan perdesaan untuk mengejar target vaksin.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Pemeriksaan kesehatan warga sebelum vaksinasi Covid-19 massal di Kantor Lurah Desa Gadingsari, Bantul, Yogyakarta, Rabu (16/6). Sebanyak 475 orang warga Desa Gadingsari mendapatkan vaksinasi Covid-19, dan mayoritas dari warga lanjut usia. Kini vaksinasi Covid-19 sudah mulai kawasan perdesaan untuk mengejar target vaksin.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA--Seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah diharuskan bekerja sama dalam mencegah penyebaran Covid-19, termasuk Varian Delta. Virolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Mohamad Saifudin Hakim menyebut, penerapan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19 dan vaksinasi dapat menghentikan transmisi Varian Delta.

Saifudin mengatakan, Varian Delta berpotensi menginfeksi lebih banyak orang. Sehingga, dapat menyebabkan lonjakan penyebaran Covid-19 di masyarakat.

"Sampai kapan ada Varian Delta, sampai kita bisa efektif menghentikan transmisi virus entah dengan penerapan prokes yang super lebih ketat atau vaksinasi yang dipercepat," kata Saifudin dalam talkshow yang digelar Republika secara daring bertemakan 'Varian Delta Terus Merebak : Bagaimana Kita Bersikap', Jumat (18/6).

Saifudin menuturkan, penerapan prokes harus dilakukan secara simultan. Baik itu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan hingga mengurangi mobilitas.

Hal ini, katanya, menjadi tanggung jawab bersama untuk menghentikan merebaknya transmisi Varian Delta. Jika kesadaran masyarakat untuk menjalankan prokes, mutasi baru Covid-19 dapat terus terjadi di tengah masyarakat dan berkemungkinan lebih ganas dari Varian Delta.

"Masker secara efektif menurunkan risiko seseorang terinfeksi dari Varian Delta atau varian baru yang lain. Kalau mau kemungkinan lain (sampai kapan Varian Delta ada), ya sudah nunggu saja varian yang lebih dominan yang lebih tangguh dari Delta, kita akan lebih kerepotan lagi," ujarnya.

Sementara itu, program vaksinasi oleh pemerintah juga diharapkan dapat dipercepat. Melalui vaksinasi, akan lebih memberikan perlindungan karena menghentikan mutasi virus yang menyebabkan terbentuknya Varian Delta.

Ia mencontohkan upaya yang dilakukan oleh pemerintah Inggris dalam menghentikan transmisi Varian Delta. Saat ditemukannya Varian Delta di negara tersebut, pemerintahnya langsung melakukan percepatan vaksinasi.

Sehingga, masyarakat yang belum menjadi prioritas untuk mendapatkan vaksinasi dijadikan prioritas. Di Inggris sendiri, katanya, lansia menjadi prioritas utama untuk mendapatkan vaksinasi. "Hampir semua lansia disana sekarang sudah tervaksin, prioritas berikutnya kelompok dewasa dan yang lain-lain. Dengan adanya varian baru ini, mau tidak mau memaksa pemerintah UK untuk melakukan percepatan vaksinasi," jelas Saifudin.

Menurut Saifudin, prokes dan vaksinasi dinilai menjadi faktor dominan dalam menurunkan kasus positif Covid-19 yang disebabkan oleh infeksi Varian Delta. Untuk itu, masyarakat dan pemerintah diharapkan bersama-sama dalam melakukan upaya penghentian Varian Delta yang kemungkinan menginfeksi banyak orang lebih tinggi."Mempercepat vaksinasi, distribusi dan pelaksanaan vaksinasi," katanya.

Selain itu, Saifudin juga berharap agar dilakukan pengawasan terkait efektivitas vaksinasi. Terutama bagi masyarakat yang sudah mendapatkan dosis lengkap yakni dua kali penyuntikan vaksin.

"Ternyata di suatu wilayah ketika ada klaster dengan orang-orang yang sudah mendapatkan vaksin tadi masih terkonfirmasi positif dengan angka CT Value yang rendah. Ini perlu dicek, apakah karena infeksi varian baru (Delta) atau bukan," tambahnya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement