Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Siswa Turki Diinterogasi Atas Penolakan Genosida Armenia

Jumat 18 Jun 2021 13:29 WIB

Red: Christiyaningsih

Siswa SMA asal Turki di Prancis, Altay, menghadapi ancaman penjara setelah menolak klaim gurunya tentang peristiwa tahun 1915. - Anadolu Agency

Siswa SMA asal Turki di Prancis, Altay, menghadapi ancaman penjara setelah menolak klaim gurunya tentang peristiwa tahun 1915. - Anadolu Agency

Siswa SMA asal Turki di Prancis Altay menghadapi ancaman penjara setelah menolak klaim gurunya tentang peristiwa tahun 1915 - Anadolu Agency

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Seorang siswa SMA asal Turki diinterogasi oleh petugas intelijen Prancis tentang identitas Muslimnya serta dugaan ekstremisme setelah menolak klaim gurunya tentang peristiwa yang terjadi pada 1915 di wilayah Ottoman.

Siswa bernama Altay itu menghadapi intimidasi, ancaman hukuman penjara, dan upaya untuk menginterogasi dengan tudingan ekstremisme karena dia tidak menerima pernyataan gurunya di kelas sejarah pada 2 Juni, meski menurut hukum Prancis, menolak klaim orang Armenia itu bukanlah kejahatan.

Baca Juga

Altay dan keluarganya, yang tidak menyebutkan nama belakang mereka karena kekhawatiran akan keselamatan mereka, menceritakan peristiwa itu kepada Anadolu Agency, mengatakan bahwa gurunya telah mendoktrin muridnya selama 2 jam soal klaim Armenia, dan terus-menerus mengatakan bahwa orang Turki "membunuh orang Armenia dan warga sipil”.

"Saya tidak tahan. Saya bertahan selama 40 menit dan kemudian dengan tenang mengajukan pertanyaan: 'Apakah ada bukti?' Kemudian, guru itu tiba-tiba marah dan berkata, 'Bagaimana kamu bisa mengatakan ini? Bagaimana kamu bisa menolaknya?' kata Altay.

Dia menambahkan bahwa gurunya itu mengatakan dia bisa masuk penjara selama satu tahun karena kata-katanya yang diduga menyangkal "apa yang diklaim" genosida Armenia, dan pihak sekolah menelepon ayahnya untuk membahas apa yang terjadi.

Setelah melakukan beberapa penelusuran, Altay menemukan bahwa tidak ada komentarnya yang menjadi kejahatan di Prancis dan Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (ECHR) tidak mewajibkan mendefinisikan peristiwa 1915 sebagai "genosida".

Tudingan radikalisme dan serangan pada identitas Muslim

Setelah kejadian itu, Altay dipanggil seminggu kemudian oleh pasukan intelijen untuk menjawab pertanyaan.

Dia mengatakan, dia diperlakukan dengan baik, tetapi meski diberi tahu bahwa dia tidak melakukan sesuatu yang ilegal, mereka mengambil nama pengguna dan kata sandi akun media sosialnya dan mengajukan pertanyaan tentang keyakinan dan praktik agamanya.

Sebagai seorang siswa yang menjalani ujian pada saat itu, Altay menekankan bahwa dia berada di bawah banyak tekanan, dan sangat khawatir tentang masa depannya, tidak dapat berkonsentrasi pada tugas sekolah.

Pembatasan kebebasan berbicara

Ayah Altay, Aydin, mengatakan bahwa selama pertemuannya dengan kepala sekolah putranya, dia diberi tahu bahwa remaja itu "menghadapi insiden yang sangat buruk," dan dia dapat didenda atau dipenjara. Pihak berwenang sekolah "melebih-lebihkan insiden itu" selama konferensi, kata Aydin.

Sebagai tanggapan, Aydin menggarisbawahi bahwa di Prancis, "Setiap orang memiliki kebebasan untuk berbicara".

"Jika dia melakukan kejahatan besar seperti itu, mengapa Anda tidak memberikan hukuman disiplin?" tanya Aydin kepala pihak sekolah, yang mengatakan itu tidak mungkin.

"Saya berkata: 'Tetapi Anda menyampaikan semuanya kepada otoritas tinggi, mengapa Anda tidak menghukumnya? Jika dia bersalah, Anda perlu menghukumnya.' Kemudian, mereka diam. Mereka tidak mengatakan apa-apa".

“Sejak hari itu, saya mengalami sedikit depresi. Karena saya sangat khawatir, mereka memberikan cuti paksa dari pekerjaan saya. Kondisi mental anak saya juga memburuk. Tidak ada yang datang untuk mendukung kami dalam masalah ini di Prancis, hanya saya kolega di tempat kerja mendukung saya, tidak ada orang lain. Tidak ada seorang pun dari pemerintah Prancis yang menelepon saya," tutur Aydin.

Ibu Altay, Aysel juga mengungkapkan bahwa dirinya sangat khawatir tentang masa depan putranya setelah insiden itu.

Sikap Turki soal Peristiwa 1915

Posisi Turki pada Peristiwa 1915 adalah bahwa kematian warga Armenia di Anatolia timur terjadi ketika sejumlah pihak berpihak pada invasi Rusia dan memberontak melawan pasukan Ottoman. Relokasi warga Armenia kemudian mengakibatkan banyak korban.

Turki keberatan dengan penyajian insiden ini sebagai "genosida," menggambarkannya sebagai tragedi di mana korban jiwa timbul di kedua belah pihak.

Ankara telah berulang kali mengusulkan pembentukan komisi bersama sejarawan dari Turki dan Armenia serta pakar internasional untuk menangani masalah tersebut. Pada 2014, Erdogan menyampaikan belasungkawa kepada keturunan Armenia yang kehilangan nyawa dalam peristiwa 1915.

sumber : https://www.aa.com.tr/id/turki/siswa-turki-diinterogasi-intelijen-prancis-atas-penolakan-genosida-armenia/2277835
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA