Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Angka Perceraian Jatim Masih Tinggi

Jumat 18 Jun 2021 13:02 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Muhammad Hafil

Angka Perceraian Jatim Masih Tinggi. Foto: Perceraian/ilustrasi

Angka Perceraian Jatim Masih Tinggi. Foto: Perceraian/ilustrasi

Foto: dailymail
Jatim masih memiliki angka perceraian yang tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kepala Seksi Kantor Urusan Agama dan Keluarga Sakinah Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur, Farmadi Hasyim mengungkapkan masih tingginya angka perceraian di wilayah setempat. Berdasarkan data dari Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Jatim, sepanjang 2020, ada sebanyak 18.034 perkara cerai yang diajukan ke pengadilan agama di 38 kabupaten/ kota di Jatim. Dari jumlah itu, 9.386 perkara di antaranya dikabulkan hakim.

“Itu data dari PTA untuk tahun 2020 yang masuk ke kami,” kata Farmadi, Jumat (18/6).

Dari 9.386 yang diputus cerai, lanjut Farmadi, yang paling banyak ialah perkara yang disidangkan di Pengadilan Agama Surabaya, yaitu 926 perkara. Tertinggi kedua diputus Pengadilan Agama Jember sebanyak 822 perkara, dan posisi terbanyak ketiga diputus Pengadilan Agama Lamongan sebanyak 454 perkara.

“Yang paling banyak mengajukan (cerai) dari perempuan cerai gugat, separuhnya,” ujarnya.

Memasuki 2021, angka perceraian di Jatim juga masih tinggi. Di Kota Surabaya misalnya, mulai Januari hingha Mei 2021, ada sebanyak 2.454 perkara perceraian yanh diajukan. Rinciannya, 1.723 perkara diajukan pihak istri (cerai gugat) dan 731 diajukan pihak suami (cerai talak).

Juru bicara Pengadilan Agama Surabaya Wachid Ridwan mengatakan, faktor yang paling dominan ialah ketidakharmonisan pasangan suami-istri sehingga kerap terjadi pertengkaran atau cekcok. Faktor itu jadi alasan banyaknya pihak istri mengajukan gugat cerai.

Sementara, lanjut Wachid, alasan faktor ekonomi tidak begitu mendominasi gugatan cerai yang masuk. Karena terkadang ada suami yang memiliki penghasilan tapi pelit. Itu juga menjadi sumber ketidakharmonisan.   

"Ada juga sama-sama punya penghasilan, tapi tidak bisa mengelola keuangan, utang banyak, sering kami temukan. Istri semena-mena karena penghasilan lebih tinggi. Tapi, kalau itu masuk alasan psikologis," ujarnya.

Adapun alasan suami menalak istri biasanya karena perselingkuhan. Biasanya itu terjadi pada suami yang memiliki istri banyak kegiatan di luar rumah. Apalagi ketika suami maupun istri sama-sama memiliki penghasilan.
 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA