Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Preventif Kolektif Satu-Satunya Cara Redam Lonjakan Covid-19

Jumat 18 Jun 2021 09:48 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: A.Syalaby Ichsan

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito memaparkan perkembangan penanganan Covid-19 dalam keterangan pers di Graha BNPB, Selasa (16/2) yang juga disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden. Penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tingkat kabupaten/kota ditambah PPKM Mikro tingkat RT/RW, menghasilkan dampak yang signifikan terhadap perkembangan kasus Covid-19.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito memaparkan perkembangan penanganan Covid-19 dalam keterangan pers di Graha BNPB, Selasa (16/2) yang juga disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden. Penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tingkat kabupaten/kota ditambah PPKM Mikro tingkat RT/RW, menghasilkan dampak yang signifikan terhadap perkembangan kasus Covid-19.

Foto: Satgas Covid-19
Setiap orang dinilai punya peranan penting memutus mata rantai penularan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pemerintah terus mempromosikan protokol kesehatan kepada masyarakat. Satgas Penanganan Covid-19 pun, tak ada hentinya mengingatkan bahwa upaya preventif secara kolektif adalah satu-satunya cara untuk meredam lonjakan kasus saat ini. 

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan, dengan bersama-sama melakukan pencegahan secara kolektif, maka setiap orang punya peranan penting memutus mata rantai penularan. 
 
Wiku pun menarik waktu mundur ke belakang, pada Maret 2020 lalu atau saat awal pandemi melanda Indonesia. Saat itu, ujar Wiku, tren kenaikan kasus terjadi karena belum terbentuknya kekompakan masyarakat dalam menjalankan upaya pencegahan. Apalagi, saat itu Covid-19 merupakan penyakit baru dan pengetahuan terkaitnya masih sangat minim. 
 
"Hal ini akhirnya berimbas pada kenaikan kasus positif dan menipisnya kapasitas pelayanan kesehatan," kata Wiku dalam siaran pers, Kamis (17/6) malam.
 
Wiku lantas mengutip hasil studi Matraj dan Leung (2020) yang menyatakan bahwa semakin dini intervensi pencegahan, maka semakin berdampak melandainya kurva kasus dan menguatnya kapasitas sistem kesehatan. Alasannya, imbuhnya, upaya pencegahan penyakit menular seperti COVID-19 bersifat multipilikatif. 
 
"Makanya, dari setiap 1 kasus dicegah, berperan besar menekan meluasnya penularan," katanya.
 
Ia menyebutkan bahwa upaya preventif ialah terutama melakukan 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan) secara disiplin. Kemudian, memasifkan 3T (testing, tracing dan treatment), menjauhi kerumunan, menunda perjalanan tidak mendesak, memasifkan vaksinasi khususnya pada populasi berisiko, dan memperbaiki manajemen pelayanan kesehatan serta sistem kerja tenaga kesehatannya. 
 
"Namun perlu dimengerti bahwa upaya pencegahan yang baik harus terus dilakukan secara konsisten. Karena selama masa pandemi belum berakhir, peluang penularan masih ada. Seperti yang terjadi pasca periode libur panjang yang menimbulkan kenaikan kasus," kata Wiku.
 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA