Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Kata Gerindra Soal Elektabilitas Prabowo yang Belum Aman

Jumat 18 Jun 2021 01:10 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Ratna Puspita

Menhan Prabowo Subianto

Menhan Prabowo Subianto

Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Gerindra mengatakan Prabowo tidak pernah turun ke lapangan dan melakukan pencitraan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, kokoh di puncak survei elektabilitas terbaru yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA dengan 23,5 persen. Namun, angka persentase itu dinilai belum aman bagi Prabowo lantaran terus kemerosotan ketimbang hasil pilpres 2019 lalu. 

Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, menanggapi santai hasil tersebut. "Survei sekarang dengan nanti belum tentu sama, atau dengan tiga bulan lagi juga belum tentu sama, kita santai aja," kata Dasco kepada Republika, Kamis (17/6). 

Baca Juga

Dasco menuturkan survei yang dilakukan oleh sifatnya fluktuatif. Apalagi saat ini, Prabowo tidak pernah turun ke lapangan dan melakukan pencitraan. Ia mengatakan, Prabowo masih fokus bantu pemerintahan Jokowi.

"Survei segitu dalam keadaan kaya gini ya udah bagus. Apalagi ya kan saya udah bilang ini fluktuatif, disesuaikan dengan kondisi," ucap wakil ketua DPR itu.

Ia menambahkan Gerindra juga masih fokus pada konsolidasi partai. 

Sebelumnya Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby, mengamati elektabilitas Prabowo yang terus mengalami penurunan sejak 2019. Meski selalu berada di urutan teratas sejumlah lembaga survei, nama Prabowo belum aman di kontes Pilpres.

"Ini sudah jauh merosot dibandingkan perolehan suara Prabowo pada 2019 itu 44,5 persen. Jadi dukungan Prabowo sudah merosot walau masih di atas 20 persen," kata Adjie dalam rilis survei LSI Denny JA secara daring pada Kamis (17/6). 

Adjie menduga turunnya elektabilitas Prabowo salah satunya karena para pemilihnya yang merupakan kelompok anti Jokowi di 2019 merasa kecewa. Mereka justru bisa berbalik melawan Prabowo karena merasa dikhianati karena menerima jabatan Menhan di era pemerintahan Jokowi. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA