Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Lonjakan Kasus Pasca-Lebaran 2021 yang Didominasi Pulau Jawa

Kamis 17 Jun 2021 16:15 WIB

Red: Indira Rezkisari

Satgas Covid-19 mengevakuasi warga yang akan melakukan isolasi mandiri di RSUD tipe D, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/6/2021). Kenaikan kasus Covid-19 pasca-Lebaran didominasi wilayah Pulau Jawa.

Satgas Covid-19 mengevakuasi warga yang akan melakukan isolasi mandiri di RSUD tipe D, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/6/2021). Kenaikan kasus Covid-19 pasca-Lebaran didominasi wilayah Pulau Jawa.

Foto: ANTARA / Fakhri Hermansyah
Tahun lalu, pasca-Lebaran Bali Sulsel masuk penyumbang kasus terbanyak.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Sapto Andika Candra, Fauziah Mursid, Rr Laeny Sulistyawati, Antara

Perubahan formasi daerah yang mengalami lonjakan kasus tertinggi di periode empat pekan setelah Lebaran pada tahun ini, dibanding tahun 2020, terjadi. Tahun ini lima provinsi yang menyumbang angka lonjakan kasus tertinggi adalah DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Sebenarnya, Banten yang juga berada di Pulau Jawa duduk di peringkat keenam.

Deretan provinsi tersebut berbeda dengan tahun 2020 lalu. Sebulan setelah Lebaran tahun lalu, Bali dan Sulawesi Selatan masuk ke dalam lima provinsi penyumbang angka kasus tertinggi. Tahun ini, kedua provinsi ini keluar dari daftar lima besar.

"Lima besar kenaikan tertinggi ini dapat dikaitkan dengan fakta meski sudah diberlakukan periode larangan mudik, namun mobilitas warga tetap meningkat signifikan. Selain itu, di dalam kota terjadi mobilitas ke pusat perbelanjaan dan pusat wisata," ujar Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, dalam keterangan pers, Kamis (17/6).

Wiku menyebutkan, adanya penambahan jendela pengetatan mudik, yakni pada 22 April-5 Mei dan 18-24 Mei atau hingga nyaris dua pekan setelah Lebaran membuat dampak kenaikan kasus Covid-19 bisa terjadi lebih lama. Pemerintah memprediksi, kenaikan kasus sebagai akibat dari tingginya mobilitas warga saat libur Lebaran lalu masih bisa dirasakan 7-8 pekan pasca-Lebaran.

"Tentunya keadaan di tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Di tahun ini mungkin kita sudah lelah. Keinginan untuk beraktivitas normal tidak dapat dihindari. Namun sisi positifnya, kita dapat ambil pelajaran dari penanganan di tahun lalu. Serta intervensi kebijakan seperti apa yang harus diambil," kata Wiku.

Pemerintah merilis data teranyar yang menunjukkan bahwa lonjakan kasus Covid-19 pada periode satu bulan setelah Lebaran tahun ini, lebih signifikan ketimbang lonjakan pada periode yang sama tahun 2020 lalu. Lonjakan angka kasus cukup tinggi memang terjadi pada satu pekan terakhir, atau tepat empat pekan setelah Lebaran.

Wiku menyampaikan, lonjakan kasus pada pekan keempat setelah Lebaran 2021 tercatat 112,22 persen. Angka ini lebih tinggi dari pada lonjakan kasus Covid-19 pada empat pekan setelah Lebaran 2020 lalu, yakni 93,11 persen.

"Kenaikan yang signifikan tahun ini tidak dipungkiri karena pada pekan keempat setelah Lebaran, terjadi penambahan kasus secara signiikan dibandingkan pekan-pekan sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, kenaikan bisa dua kali lipat," kata Wiku.

Hingga pekan ketiga setelah Lebaran 2021, sebenarnya lonjakan kasusnya tidak melebihi kejadian pada 2020 lalu. Satgas mencatat, kenaikan kasus Covid-19 hingga tiga pekan setelah Lebaran 2021 sebesar 50 persen. Angka ini masih lebih rendah dibanding lonjakan kasus pada periode yang sama pada 2020 lalu.

"Memang hanya dalam sepekan terakhir yakni pada pekan keempat setelah Lebaran, persentase kasus tahun ini langsung melebihi tahun lalu," kata Wiku.

Dari sisi angka kenaikan, lonjakan tahun ini memang lebih parah ketimbang tahun lalu. Namun jika dibedah lebih dalam dari signifikansinya, Wiku menambahkan, lonjakan tahun lalu sebenarnya tetap masih lebih tinggi.

Wiku memberi contoh, kenaikan kasus Covid-19 di Provinsi Jawa Tengah pada pekan keempat setelah Lebaran tahun ini sebesar 281 persen. Angka ini masih jauh di bawah lonjakan kasus pada periode yang sama tahun 2020 lalu, 758 persen.

"Tahun lalu Indonesia masih di tahap awal pandemi dan kita masih menyesuaikan diri dengan penanganan Covid-19," kata Wiku.

Wiku melanjutkan, fakta angka ini membuat pemerintah terus berupaya menekan angka penularan. Pemerintah, ujar Wiku, menyadari adanya kenaikan signifikan dalam waktu singkat di beberapa daerah seperti Kabupaten Bangkalan, Pati, Kudus, Jepara, Bandung, dan Kota Cimahi.

"Adanya kenaikan kasus ini menunjukkan bahwa dalam melihat situasi tidak bisa di level provinsi saja, tapi harus ke kabupaten kota. Kalau ada kabupaten kota naik tinggi, harus segera ditangani, sebelum meluas di level provinsi," ujar Wiku.



BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA