Kamis 17 Jun 2021 14:38 WIB

Anggota OKI Sepakat Setujui Deklarasi Abu Dhabi

Anggota OKI Sepakat Setujui Deklarasi Abu Dhabi

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Muhammad Hafil
Anggota OKI Sepakat Setujui Deklarasi Abu Dhabi. Foto:   logo-OKI
Anggota OKI Sepakat Setujui Deklarasi Abu Dhabi. Foto: logo-OKI

REPUBLIKA.CO.ID,ABU DHABI—Negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) menyetujui Dekalarasi Abu Dhabi, sebuah pernyataan yang menegaskan komitmen untuk mengadopsi semua langkah yang diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mencapai kemajuan dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi.

Para pemimpin OKI berkomitmen untuk meningkatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, menghidupkan kembali peran utama Islam secara global, dan memastikan pembangunan berkelanjutan, kemajuan dan kemakmuran di seluruh negara anggota. Anggota OKI juga sepakat bahwa pencapaian kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dapat membantu mengatasi tantangan seperti kemiskinan dan perubahan iklim, sambil mendorong pertumbuhan di negara-negara berkembang.

Baca Juga

“Kami berharap dapat membangun pencapaian KTT pertama dan melanjutkan bersama dalam mengembangkan peta jalan untuk inisiatif paling penting dan proyek masa depan untuk mencapai tujuan dari rencana 10 tahun kedepan. Tidak cukup untuk menentukan tujuan dan mengembangkan rencana aksi, tetapi kami harus memotivasi masyarakat kami untuk memimpin proses inovasi," kata Sheikh Abdullah bin Zayed, Menteri Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, yang dikutip Republika di The National News, Kamis (17/6).

UEA, yang mengambil alih kepresidenan KTT dari Kazakhstan, telah menjadi pelopor dalam mencapai tonggak ilmiah. Emirates menjadi negara Arab pertama yang mengirim pesawat ruang angkasa ke orbit Mars, awal tahun ini. UEA juga menjadi negara pertama di kawasan yang menggunakan energi nuklir untuk menghasilkan 25 persen dari kebutuhan listriknya.

Sebagai bagian dari Deklarasi Abu Dhabi, para pemimpin berjanji untuk mendorong inovasi, mengembangkan industri lokal di bidang farmasi dan vaksin dan mengadopsi tindakan pencegahan dan perawatan untuk penyakit menular dan tidak menular, sejalan dengan hukum dan standar internasional. Dokumen tersebut juga menyinggung pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membuka lebih banyak peluang bagi generasi muda, termasuk meningkatkan pendidikan sains, teknologi, teknik dan matematika (STEM) di tingkat dasar, menengah dan universitas, dan bagaimana langkah tersebut dapat membantu memajukan sains di negara-negara ini.

Anggota juga berkomitmen untuk mendukung pertanian, pembangunan pedesaan dan ketahanan pangan, dalam upaya untuk meningkatkan solidaritas di antara negara-negara dan menghilangkan kemiskinan. Deklarasi Abu Dhabi juga mengharuskan anggota untuk bertukar pengetahuan, keahlian dan teknologi di bidang energi, sambil memperkuat dukungan lokal untuk kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang teknologi tenaga untuk meningkatkan akses ke energi. Deklarasi tersebut menyoroti pentingnya kebijakan digital, dan mendukung Revolusi Industri Keempat dan menekankan pentingnya transformasi digital.

"Dalam dua tahun terakhir, selama pandemi dan apa yang disebabkannya, dunia telah menyaksikan transformasi yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Sarah Al Amiri, Menteri Negara untuk Teknologi Lanjutan.

“Tanpa teknologi, kita tidak akan dapat melanjutkan hidup kita secara normal. Kita semua berharap bahwa kita akan melihat kerjasama dan integrasi yang lebih baik dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di antara 57 anggota organisasi, dan bahwa dunia Muslim akan menjadi lebih maju dan berkembang. berkelanjutan,” ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement