Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Terus Merasa Lapar Sepanjang Hari? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kamis 17 Jun 2021 14:08 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Rasa lapar yang muncul terus-menerus dapat memicu masalah di kemudian hari.

Rasa lapar yang muncul terus-menerus dapat memicu masalah di kemudian hari.

Foto: Flickr
Rasa lapar yang muncul terus-menerus dapat memicu masalah di kemudian hari.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Rasa lapar merupakan hal yang lumrah untuk dialami oleh setiap orang. Akan tetapi, rasa lapar yang muncul terus-menerus dapat memicu masalah di kemudian hari bila tak dikontrol.

Salah satu faktor yang dapat membuat seseorang merasa lapar terus-menerus adalah penurunan kadar gula darah yang terjadi sesaat setelah makan. Orang-orang dengan kondisi ini dikenal sebagai big dipper.

Kaitan antara rasa lapar yang terus-menerus muncul dengan big dipper ini diungkapkan dalam sebuah studi oleh peneliti PREDICT. Selama studi berlangsung, para partisipan diberikan sebuah menu makan yang menantang secara metabolik untuk sarapan. Makanan ini dirancang tinggi lemak dan tinggi karbohidrat dan disajikan dalam bentuk sebuah muffin dan milkshake.

Setelah itu, para partisipan diberikan makan siang yang dapat meberikan tekanan terhadap sistem tubuh mereka. Tujuannya adalah untuk melihat perbedaan respons tubuh dari tiap partisipan.

Kemudian, selama dua pekan mereka akan diminta untuk di rumah saja sambil mengenakan teknologi, seperti pemantau kadar gula darah yang terus-menerus. Selama di rumah, para partisipan disediakan menu sarapan dengan beragam komposisi makronutrien yang sudah distandarisasi oleh para peneliti.

Para peneliti memahami bahwa tubuh manusia memiliki cara yang rumit dalam hal memetabolisme makanan. Makanan itu sendiri dinilai merupakan hal yang rumit karena terdiri dari ribuan zat kimia dan juga kompleksitas pada strukturnya.

Peneliti lalu menemukan bahwa sebagian orang memiliki kecenderungan untuk mengalami penurunan kadar gula darah dalam waktu satu hingga dua jam setelah mengonsumsi makanan. Penurunan kadar gula darah ini bisa mencapai di bawah batas kadar normal kadar gula darah mereka.

Dari temuan inilah peneliti mendapati bahwa kondisi big dipper dapat mempengaruhi seberapa besar rasa lapar seseorang. Individu dengan penurunan kadar gula darah yang lebih besar setelah makan cenderung menjadi lebih sering lapar.

Individu dengan big dipper memiliki kecenderungan untuk kembali makan 30 menit setelah mereka bersantap. Selain itu, mereka juga cenderung menyantap lebih banyak kalori pada menu makan berikutnya.

"Orang-orang yang mengalami penurunan kadar gula darah lebih tinggi (big dipper) sekitar 3-4 jam setelah makan cenderung mengonsumsi sekitar 300 kalori lebih banyak dalam kurun waktu 24 jam," ungkap peneliti, seperti dilansir Science Focus, Kamis (17/6).

Ada dua faktor yang berperan dalam membuat seseorang rentan untuk menjadi big dipper. Salah satunya adalah metabolisme dan biologi mereka yang unik. Faktor lainnya adalah makanan. Sebagian makanan diketahui dapat menyebabkan terjadinya penurunan kadar gula darah.

"Orang-orang perlu melihat banyak faktor berbeda yang berdampak pada bagaimana mereka merespons makanan," papar peneliti.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA