Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

‘Tak Perlu Istilah PPKM atau PSBB, yang Penting Implementasi

Kamis 17 Jun 2021 13:34 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Ratna Puspita

Satgas COVID-19 (kiri) mengevakuasi dua orang warga yang akan melakukan isolasi mandiri di RSUD tipe D, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/6/2021). Pemerintah memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis mikro hingga 30 Juni 2021 seiring lonjakan kasus COVID-19 yang saat ini telah mencapai 1.378 jiwa.

Satgas COVID-19 (kiri) mengevakuasi dua orang warga yang akan melakukan isolasi mandiri di RSUD tipe D, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/6/2021). Pemerintah memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis mikro hingga 30 Juni 2021 seiring lonjakan kasus COVID-19 yang saat ini telah mencapai 1.378 jiwa.

Foto: ANTARA / Fakhri Hermansyah
Tidak dibutuhkan diksi dalam penanganan Covid-19, melainkan penanganan atau action.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono menilai istilah pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) atau pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tidaklah penting. Hal yang penting adalah implementasi yang optimal.

Artinya, dia menambahkan, tidak dibutuhkan diksi dalam penanganan Covid-19, melainkan penanganan atau action. "Tidak perlu istilah, PPKM atau PSBB sama saja. Yang penting apa yang harus dilakukan dan dapat diimplementasikan dengan optimal," ujarnya saat dihubungi Republika, Kamis (17/6).

Baca Juga

Sebelumnya, terjadi perang di media sosial antara Pandu dengan Ketua Satuan Tugas Covid-19 IDI Zubairi Djoerban. "Didasari melonjaknya kasus Covid-19 dan rawat inap, saya merasa Indonesia butuh istilah baru sebagai pengganti PPKM mikro. Saya rekomendasikan kata lockdown saja agar monitoringnya lebih tegas dan lebih serius. Meski isi konten kebijakannya jauh beda dengan PPKM. Terima kasih," katanya.

Kemudian Pandu membalas cuitan tersebut. "Ganti istilah bukan solusi, juga jangan berasumsi kalau pakai istilah populer seperti lockdown tujuan penanganan pandemi tercapai. Tetap fokus pada tingkatkan peran serta penduduk. Diksi tidak penting,"  katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA