Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Junta Myanmar Bakar Desa demi Redam Perlawanan

Kamis 17 Jun 2021 05:05 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Dalam gambar yang dibuat dari video oleh Transborder News ini, asap mengepul dari kamp tentara Myanmar dekat perbatasan Myanmar dan Thailand pada Selasa, 27 April 2021. Gerilyawan etnis Karen mengatakan mereka merebut pangkalan militer Myanmar pada hari Selasa dalam apa yang mewakili peningkatan moral tindakan bagi mereka yang menentang pengambilalihan militer atas pemerintah sipil negara pada Februari.

Dalam gambar yang dibuat dari video oleh Transborder News ini, asap mengepul dari kamp tentara Myanmar dekat perbatasan Myanmar dan Thailand pada Selasa, 27 April 2021. Gerilyawan etnis Karen mengatakan mereka merebut pangkalan militer Myanmar pada hari Selasa dalam apa yang mewakili peningkatan moral tindakan bagi mereka yang menentang pengambilalihan militer atas pemerintah sipil negara pada Februari.

Foto: Transborder News via AP
Foto-foto dan video Desa Kinma yang hangus tersebar di media sosial.

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK -- Warga sebuah desa Myanmar mengatakan pasukan pemerintah membakar sebagian besar desa di bagian tengah negara itu. Pembakaran ini dilaporkan media-media independen dan media sosial.

Langkah ini tampaknya dilakukan untuk menekan perlawanan terhadap pemerintah militer. Serangan ini salah satu contoh bagaimana kekerasan menjadi endemik di Myanmar dalam beberapa bulan terakhir ketika junta mencoba meredakan gerakan pemberontakan.

Setelah militer merebut kekuasaan dari pemerintahan Aung San Suu Kyi yang dipilih dengan demokratis, banyak masyarakat Myanmar yang menggelar gerakan pembangkangan massal demi melawan kekuasaan militer.

Pada Rabu (16/6), foto-foto dan video desa Kinma di wilayah Magway yang hangus tersebar di media sosial. Gambar-gambar memperlihatkan desa tersebut rata dengan tanah usai dilalap api dan banyak bangkai binatang ternak. Warga desa yang dihubungan lewat telepon mengatakan hanya 10 dari 237 rumah yang masih berdiri.  

Warga desa itu menolak namanya disebutkan karena khawatir ditindak pemerintah. Ia mengatakan, sebagian besar warga sudah meninggalkan desa tersebut sebelum tentara tiba dan melepaskan tembakan.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA