Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Manusia Berevolusi Semakin Cepat, Apa Pemicunya?

Kamis 17 Jun 2021 00:05 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Proses evolusi manusia yang relatif cepat tak hanya dipengaruhi oleh faktor genetik.

Proses evolusi manusia yang relatif cepat tak hanya dipengaruhi oleh faktor genetik.

Foto: tangkapan layar clipart library
Proses evolusi manusia yang relatif cepat tak hanya dipengaruhi oleh faktor genetik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Manusia yang ada di hari ini terbentuk oleh proses seleksi alam yang dilalui oleh nenek moyang sejak zaman dahulu. Uniknya, proses evolusi manusia yang relatif cepat tak hanya dipengaruhi oleh faktor genetik.

Hal ini diungkapkan dalam sebuah studi pada jurnal Proceedings of the Royal Society B. Berdasarkan temuan dalam studi ini, proses evolusi tak hanya terikat erat dengan faktor genetik.

Ada faktor lain yang mendorong proses evolusi bergerak lebih cepat dibandingkan mutasi genetik. Faktor tersebut adalah budaya manusia.

Mengacu pada konsep ini, evolusi tak lagi membutuhkan faktor mutasi genetik yang diwariskan, tersebar luas, dan memberikan keuntungan bagi kelangsungan hidup. Akan tetapi, evolusi dinilai membutuhkan sebuah "mutasi" perilaku yang dipelajari dan diteruskan melalui budaya dan memberikan keuntungan dalam kelangsungan hidup.

Menurut peneliti, evolusi budaya tersebut memberi pengaruh yang lebih kuat dalam membentuk kehidupan manusia di masa kini dibandingkan dengan seleksi alam. Salah satu peneliti dari School of Biology and Ecology di University of Maine, Zach Wood, memberikan contoh.

Wood mengatakan, ketika virus menyerang suatu spesies, spesies tersebut akan menjadi imun terhadap virus itu melalui evolusi genetik. Akan tetapi, proses evolusi ini bekerja dengan lambat, sehingga makhluk yang lebih rentan akan mengalami kematian dan yang memiliki kekebalan akan menurunkan gen mereka.

Namun saat ini, lanjut Wood, manusia tak perlu beradaptasi dengan ancaman virus dengan cara yang sama. Manusia kini bisa beradaptasi dengan mengembangkan vaksin dan intervensi-intervensi medis lain. Dengan mengembangkan vaksin, manusia turut memperbaiki sistem imun kolektif mereka.

"Yang bukan merupakan hasil dari pekerjaan satu orang, tetapi pekerjaan banyak orang yang membangun akumulasi "mutasi" pengetahuan budaya," papar Wood, seperti dilansir Science Alert, Rabu (16/6).

Peneliti lain dari University of Maine, Tim Waring, mengatakan terkadang evolusi budaya turut mendorong evolusi genetik. Contoh dari situasi ini adalah toleransi laktosa.

"Meminum susu sapi dimulai sebagai sebuah ciri budaya yang kemudian mendorong evolusi (genetik) pada sekelompok manusia," ungkap Waring.

Melalui jurnal tersebut, Waring dan Wood mengatakan pada satu titik dalam sejarah manusia, budaya mulai mengambil kontrol evolusi dari DNA atau faktor genetik manusia. Hal inilah yang kemudian membuat perubahan budaya saat ini memungkinkan manusia untuk berevolusi dalam cara yang tak mungkin diwujudkan bila hanya mengandalkan faktor biologis atau genetik.

"Dalam jangka yang sangat panjang, kami menilai manusia berevolusi dari organisme genetik individual menjadi kelompok budaya yang berfungsi sebagai superorganisme, serupa dengan koloni semut dan sarang lebah," papar Waring.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA