Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Utang PLN Dinilai Sehat karena untuk Investasi

Rabu 16 Jun 2021 21:02 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Gita Amanda

Ilustrasi Meteran Listrik PLN. Peningkatan jumlah utang PLN jauh di bawah investasi dan nilai aset BUMN tersebut.

Ilustrasi Meteran Listrik PLN. Peningkatan jumlah utang PLN jauh di bawah investasi dan nilai aset BUMN tersebut.

Foto: Foto : MgRol112
Peningkatan jumlah utang PLN jauh di bawah investasi dan nilai aset BUMN tersebut

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom senior Faisal Basri menilai, PLN mengelola utang baik. Peningkatan jumlah utang PLN jauh di bawah investasi dan nilai aset BUMN tersebut.

Faisal menyebut, PLN mencatatkan utang 451 triliun pada 2020 atau turun Rp 2 triliun dibanding 2019. “Utang PLN tidak dipakai untuk foya-foya. Hampir semua dipakai untuk investasi. Hanya sebagian kecil untuk menjaga cashflow (arus kas),” ujar Faisal, Rabu (16/6).

Ia menyimpulkan itu karena PLN mencatatkan penambahan utang Rp 199 triliun pada periode 2015-2020. Sebaliknya, nilai investasi PLN pada periode yang sama mencapai Rp 448 triliun, lebih banyak dibanding keseluruhan penambahan utang PLN di periode 2015-2020.

Wujud investasi itu antara lain penambahan aset berupa pembangkit total 10.000 megawatt, transmisi sepanjang 23.000 kilometer sirkuit, dan gardu induk total 84.000 MvA. Bagi masyarakat, manfaat investasi PLN dirasakan dalam bentuk peningkatan rasio elektrifikasi. Dari 88,3 persen menjadi 99,2 persen. Dengan kata lain, hampir seluruh wilayah Indonesia sudah terjangkau layanan kelistrikan dari PLN.  

“PLN ini BUMN aset terbesar, sampai April 2021 mencapai Rp 1.599,5 triliun. Harus kita jaga bersama-sama. Tidak ada BUMN lain dengan aset sebesar ini,” kata Faisal.

Pernyataan Faisal dikuatkan laporan keuangan PLN dan sejumlah BUMN. BRI dan Bank Mandiri punya aset masing-masing Rp 1.387 triliun dan Rp 1.001 triliun. Sementara Pertamina Rp 984 triliun. Ada pun Aset BNI dan BTN masing-masing bernilai Rp 709 triliun dan Rp 297 triliun. BUMN lain beraset total di bawah PLN, Pertamina, dan empat bank pemerintah tersebut.

Investasi PLN, lanjut Faisal, bisa lebih besar dari utang karena sumber dananya tidak hanya pinjaman. Sebagian investasi PLN didanai dari kas internal dan penambahan modal. Investasi dari kas internal dimungkinkan karena PLN masih mencatatkan keuntungan.

Ia salut dengan tata kelola keuangan PLN yang tetap untung meski harga listrik tidak naik sejak 2017. Padahal, sumber pendapatan PLN hanya dari menjual daya.

“Ongkos naik terus, harga tidak boleh dinaikan,” ujarnya.

Pendapatan PLN bisa naik karena jumlah pelanggan memang bertambah dari 61 juta menjadi 79 juta. Meski menambah pendapatan, peningkatan pelanggan juga menaikkan biaya produksi. Sebab, semakin banyak pelanggan harus dilayani. “Penyambungan kabel, penyediaan energi primer, semua butuh biaya,” kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA