Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Bangun Tidur Lebih Awal Bantu Tangkal Depresi

Kamis 17 Jun 2021 02:21 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Dwi Murdaningsih

Bangun tidur (ilustrasi)

Bangun tidur (ilustrasi)

Foto: Pixabay
Bangun satu jam lebih awal dapat mengurangi risiko terkena depresi berat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bangun tidur di awal hari tidak hanya baik untuk kebugaran fisik, tetapi juga kesehatan mental. Berdasarkan temuan penelitian terbaru, bangun satu jam lebih awal dapat mengurangi risiko terkena depresi berat sebesar 23 persen.

Studi berbasis genetik yang dilakukan melibatkan tim dari tiga institusi, yakni University of Colorado Boulder, Broad Institute of MIT, dan Harvard. Mereka menggunakan perangkat penelitian kuesioner dan melacak kebiasaan tidur peserta.

Baca Juga

Periset menganalisis data dari 840 ribu individu, terkait kebiasaan tidur dan pengaruhnya pada kesehatan mental. Studi dianggap memiliki implikasi penting, terutama ketika orang-orang mulai beraktivitas usai lockdown.

Salah satu peneliti, Profesor Celine Vetter, mengatakan bahwa sejumlah studi telah meninjau hubungan antara waktu tidur dan suasana hati. Penelitian yang dia lakoni berusaha lebih spesifik dengan mencermati frekuensinya.

Utamanya, kaitan dengan mendapat manfaat sehat darinya. "Kami menemukan bahwa terjaga dari tidur satu jam lebih awal dikaitkan dengan risiko depresi yang jauh lebih rendah," ungkap Vetter, dikutip dari laman South Wales Argus.

Studi observasional sebelumnya menunjukkan bahwa orang yang sering tidur larut memiliki risiko dua kali lebih mungkin untuk mengidap depresi. Itu jika dibandingkan dengan orang yang bangun pagi, terlepas dari berapa lama mereka tidur.  

Selain karena gangguan mood yang dapat mengganggu pola tidur, para peneliti masih mengalami kesulitan untuk menguraikan apa penyebabnya. Studi terkini tersebut lantas menawarkan beberapa bukti kuat bahwa kronotipe (kecenderungan seseorang untuk tidur pada waktu tertentu) memengaruhi risiko depresi.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA