Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Tsunami non Tektonik Bisa Terjadi Selama Ada Gempa Susulan

Rabu 16 Jun 2021 18:56 WIB

Red: Agus Yulianto

Petugas BMKG Stasiun Geofisika Ambon memantau perkembangan gempa bumi yang mengguncang Maluku Tengah.

Petugas BMKG Stasiun Geofisika Ambon memantau perkembangan gempa bumi yang mengguncang Maluku Tengah.

Foto: Antara/Izaac Mulyawan
Cukup banyak sejarah kejadian gempa bumi dan tsunami di wilayah Maluku Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Muhammad Sadly mengatakan, tsunami non tektonik (bukan akibat gempa bumi) masih berpotensi terjadi selama gempa susulan masih ada. Karena itu, masyarakat di Pulau Seram Maluku Tengah tetap harus waspada.

"Kita terus memantau tinggi muka air laut, rekaman tide gauge Tehoru menunjukkan masih ada kenaikan air laut. Jadi kita tunggu apakah masih ada gempa susulan atau tidak," kata Sadly dalam konferensi pers terkait gempa bumi magnitudo 6,1 di Pulau Seram Maluku Tengah, Rabu.

Sadly mengatakan, BMKG telah memasang alat untuk memantau gempa dalam laut yang terhubung dengan tide gauge yang mendeteksi tinggi muka air laut milik Badan Informasi Geospasial (BIG).

Kepala Pusat Gempa bumi dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Prayitno mengatakan, cukup banyak sejarah kejadian gempa bumi dan tsunami di wilayah Maluku Tengah, sehingga daerah tersebut rawan tsunami.

Sebelumnya terjadi gempa dengan magnitudo 6,1 pada pukul 11.43 WIB yang kemudian dimutakhirkan menjadi 6,0 yang berlokasi di laut pada jarak 69 km arah Tenggara Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku pada kedalaman 19 km.

Bambang menjelaskan, berdasarkan peta geotektonik Maluku, gempa tersebut diduga akibat aktivitas tektonik Zona Sesar Kawa. Hasil pemodelan tsunami dengan sumber gempa tektonik menunjukkan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. 

Namun, berdasarkan hasil observasi tinggi muka air laut di stasiun Tide Gauge Tehoru menunjukkan adanya kenaikan muka air laut setinggi 0,5 m. Hal ini diperkirakan akibat dari longsoran bawah laut.

Selain Tide Gauge Tehoru, tsunami kecil dengan ketinggian tujuh centimeter juga terekam di stasiun Tide Gauge Banda pada pukul 12.02 WIB. Bambang mengatakan, hingga pukul 14.35 WIB berdasarkan monitoring BMKG telah terekam 16 kali gempa susulan dengan magnitudo 1,9 hingga 3,7.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA