Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Kunci Perdamaian Timur Tengah, Singkirkan Israel?

Rabu 16 Jun 2021 18:09 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Amerika Serikat memberikan dukungan terhadap eksistensi Israel. Ilustasi bendera Israel

Amerika Serikat memberikan dukungan terhadap eksistensi Israel. Ilustasi bendera Israel

Foto: Republika/Dadang Kurnia
Amerika Serikat memberikan dukungan terhadap eksistensi Israel

REPUBLIKA.CO.ID, — Amerika Serikat merasa lebih tahu dengan dunia Islam.  Irak di bawah pemerintahan Saddam Hussein dulu bisa bertahan di bawah embargo Amerika Serikat, hingga akhirnya Amerika Serikat merasa perlu menyingkirkan sang legenda itu yang dianggap tak bisa diajak kerja sama.

Iran juga begitu, bisa bertahan meski diembargo Amerika Serikat sejak Revolusi Iran. ''Saya punya daftar panjang sikap arogan Amerika Serikat. Tapi itu tak memaafkan untuk toleransi terhadap perilaku tak etis orang-orang Islam,'' ujar Dr Khaled M Abou El Fadl. Karena itu, kata guru besar hukum Islam di University of California at Los Angeles (UCLA) itu mengajak umat Islam mengorganisasi diri dengan baik untuk mempengaruhi kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Baca Juga

''Jika ingin mempengaruhi kebijakan luar negeri Amerika Serikat, harus punya tekad menjadi orang dalam Amerika Serikat. Jangan seperti orang asing dan berusaha mendapatkan kemauan sendiri di Amerika Serikat,'' ujar Khaled.

Maka, mencaci Amerika Serikat, tapi kemudian di kesempatan lain mengatakan butuh kerja sama dengan Amerika Serikat, menurut Khaled, merupakan tindakan yang munafik dan dangkal pemikiran. Tapi siapa yang sebenarnya butuh kerja sama?  

Khaled memandang, politisi Amerika Serikat merasa ''lebih tahu'' tentang dunia Islam. Irak dianggap tak punya hukum, tak punya dasar pengetahuan tentang negara hukum. ''Tapi mengirim orang usia 32 tahun dan baru mengajar di universitas satu tahun, untuk membantu Irak membuat UUD, gila namanya. Aneh. Irak kan punya sarjana-sarjana dari universitas terkenal di dunia,'' ujar Khaled.

Langkah ini mahal bagi hubungan Amerika Serikat -Islam. ''Kekuasaan adalah sesuatu yang berbahaya. Kalau mabuk kerkuasaan akan melakukan hal bodoh, melanggar hukum. Amerika Serikat buat kesalahan yang menyedihkan dan konsekuensinya berkepanjangan dan merusak citra,'' kata Khaled.

Tentang Iran, kini Iran mempunyai peran penting di Timur Tengah, dengan pusat energinya. Jika Iran meneruskan proyek nuklir, kata guru besar Universitas Columbia, Garry Sick PhD, akan mengubah peta geopolitik di Timur Tengah. Iran jadi penyeimbang kekuatan Israel, yang telah lebih dulu mempunyai pusat nuklir.

Negara mana pun, kata Sick, jika dalam posisi seperti Iran akan mencari banyak nuklir. ''Di Amerika Serikat banyak yang setuju bahwa itulah yang harus dilakukan Iran,'' ujar Sick, yang pernah ke Iran bersama Bush senior di awal 1970-an, membahas bantuan nuklir Amerika Serikat untuk Iran. Saat itu Amerika Serikat bersedia menjual reaktor nuklir ke Iran, ketika Shah Iran menjadi sekutu Amerika Serikat. Sick menjelaskan, di era 70-an, koordinasi politik di Timur Tengah selalu dikoordinasikan Amerika Serikat -Iran. Adanya sandera Amerika Serikat di Teheran menganggu hubungan itu dan menjadi permusuhan yang sangat pahit.

Amerika Serikat dinilai Sick tak mampu memperbaiki hubungan dengan Iran hingga kini. Ketika AS mengatakan Iran sebagai poros setan dan negara tiran yang harus dibasmi, Iran dinilai banyak kalangan menjadi khawatir, sehingga perlu memperkuat diri. Amerika Serikat sendiri mengeluarkan kebijakan ganda. 

Di lingkungan Deplu, pemikiran menyerbu Iran dengan kekuatan militer bukanlah sebuah pilihan. Alasannya, militer Amerika Serikat telah berkonsentrasi di Irak dan Afghanistan. Tapi mengapa Amerika Serikat tak gusar dengan kekuatan nuklir Israel? ''Orang-orang Washington tak percaya Iran, tapi percaya pada Israel,'' jawab Sick.

Maka, untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah, kata Haris, tak bisa dengan cara menyingkirkan Israel. ''Pada 1947 PBB membawa isu Palestina. Solusinya, Yahudi butuh negara sendiri, meski ditolak negara-negara Arab,'' kata Haris. 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA