Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Peneliti Temukan Bukti Virus Corona Muncul di AS pada 2019

Rabu 16 Jun 2021 15:42 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi virus corona.

Ilustrasi virus corona.

Foto: Pixabay
Ilmuwan menemukan antibodi terhadap virus corona dalam darah 9 dari 24 ribu orang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para peneliti telah menemukan lebih banyak bukti bahwa virus corona beredar pada tingkat rendah di seluruh Amerika Serikat pada awal Desember 2019. Garis waktu ini adalah beberapa minggu sebelum kasus pertama yang dilaporkan secara resmi.

Sampel darah beku menunjukkan orang-orang di lima negara bagian yakni Illinois, Wisconsin, Pennsylvania, Mississippi, dan Massachusetts, terinfeksi virus corona beberapa hari atau minggu sebelum kasus yang dilaporkan secara resmi di negara bagian tersebut.

Baca Juga

Relawan yang mengambil bagian dalam studi All of Us dari National Institutes of Health AS mengumpulkan informasi kesehatan pada 1 juta orang, menyumbangkan darah sebagai bagian dari penelitian.  

Tes terhadap 24 ribu sampel yang diambil pada awal 2020 menunjukkan antibodi terhadap virus corona dalam darah setidaknya sembilan orang, menurut laporan peneliti All of Us dalam jurnal Clinical Infectious Diseases, dilansir di CNN, Rabu (16/6).

"Ini termasuk individu dengan spesimen yang dikumpulkan 7 Januari dari Illinois, 8 Januari dari Massachusetts, 3 Februari dari Wisconsin, 15 Februari dari Pennsylvania, dan 6 Maret di Mississippi," tulis mereka.

Kasus Covid-19 pertama yang diakui sebelumnya di Illinois dilaporkan pada 24 Januari pada seorang wanita yang baru saja kembali dari Wuhan, China. Kasus pertama yang dikonfirmasi di Massachusetts tidak sampai 1 Februari.

Di Wisconsin, kasus pertama yang dikonfirmasi terjadi pada 5 Februari, di Pennsylvania kasus pertama yang dilaporkan adalah 6 Maret dan di Mississippi pada 11 Maret.

Karena dibutuhkan sekitar dua minggu untuk mengembangkan antibodi setelah infeksi, temuan menunjukkan beberapa sukarelawan terinfeksi pada bulan Desember, kata para peneliti.

"Studi ini berkontribusi pada bukti sirkulasi tingkat rendah SARS-CoV-2 di banyak negara bagian pada awal epidemi AS," tulis para peneliti.

Para peneliti menyebutkan, di antara 12 kasus pertama infeksi SARS-CoV-2 yang diketahui di Amerika Serikat, tanggal timbulnya gejala paling awal yang diketahui adalah 14 Januari 2020. Sebanyak 12 kasus tersebut baru-baru ini bepergian ke daratan China atau merupakan kontak dekat dari pelancong baru-baru ini. Pengujian domestik untuk SARS-CoV-2 dimulai pada pertengahan Januari 2020.

Pada saat itu pemerintah federal hanya merekomendasikan pengujian orang dengan gejala yang memiliki riwayat perjalanan, atau kontak langsung dengan pelancong.  

"Saya pikir apa yang ditunjukkan oleh penelitian ini adalah masih banyak bagian yang harus kita ungkap dan kumpulkan dari hari-hari epidemi ini di Amerika Serikat," ujar Dr. Keri Althoff, ahli epidemiologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA