Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

LPS: Penurunan Suku Bunga Simpanan Tekan Bunga Kredit

Rabu 16 Jun 2021 13:46 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Karyawan membersihkan logo baru Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jakarta. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah memangkas suku bunga simpanan selama tiga tahun terakhir ini. Adapun penurunan suku bunga simpanan ini seiring dengan penurunan tingkat bunga penjaminan LPS dan BI-7 Days Reverse Repo Rate.

Karyawan membersihkan logo baru Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jakarta. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah memangkas suku bunga simpanan selama tiga tahun terakhir ini. Adapun penurunan suku bunga simpanan ini seiring dengan penurunan tingkat bunga penjaminan LPS dan BI-7 Days Reverse Repo Rate.

Foto: Antara/Audy Alwi
Sejak awal tahun hingga Mei LPS telah memang suku bunga penjaminan 50 bps

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah memangkas suku bunga simpanan selama tiga tahun terakhir ini. Adapun penurunan suku bunga simpanan ini seiring dengan penurunan tingkat bunga penjaminan LPS dan BI-7 Days Reverse Repo Rate.

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan tren penurunan biaya dana perbankan ini diharapkan dapat membantu untuk menekan tingkat bunga kredit, sehingga dapat lebih mendorong intermediasi perbankan.

“Sejak awal tahun ini hingga Mei 2021, LPS telah memangkas tingkat bunga penjaminan sebesar 50 bps,” ujarnya dalam keterangan resmi seperti dikutip Rabu (16/6). Menurutnya langkah tersebut diikuti dengan penurunan rata-rata tingkat bunga deposito satu bulan dan tiga bulan masing-masing sebesar 43 bps dan 44 bps. 

"Dapat saya tarik suatu benang merah, bahwa pemulihan perekonomian nasional terus berlangsung dan menunjukkan perkembangan yang positif. Dari sisi lain, stabilitas sistem keuangan tetap stabil dan terjaga dengan baik," ucapnya.

Dengan langkah tersebut, Purbaya berharap pandemi covid-19 dapat segera berlalu sehingga perekonomian dapat kembali pulih. "Dengan begitu, maka Indonesia dapat melanjutkan pembangunan demi kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia," ungkapnya.

Per April 2021, jumlah total simpanan bank umum sebesar Rp 669,79 triliun atau naik 10,79 persen (yoy). Adapun kenaikan total simpanan bank umum ini didorong oleh kenaikan pada seluruh saldo simpanan.

Secara rinci, tiering simpanan dengan saldo lebih dari Rp 5 miliar mengalami kenaikan sebanyak Rp 432,96 triliun. Kemudian simpanan nasabah dengan saldo di atas Rp 5 miliar itu meroket sebesar 14,68 persen (yoy).

Apabila dibagi berdasarkan tier saldo simpanan, total simpanan hingga Rp 2 miliar juga mengalami kenaikan sebesar Rp 212,58 triliun. Jumlah tersebut naik sebanyak 7,89 persen (yoy). Sedangkan total simpanan dengan saldo lebih dari  Rp2 miliar juga mengalami kenaikan sebesar Rp 457,21 triliun atau tumbuh sebanyak 13,02 persen (yoy).

Dari sektor korporasi, sebutnya, juga terus mulai melakukan ekspansi dengan menggeser simpanannya dari deposito ke giro. Adapun sektor-sektor korporasi yang mulai menggeser simpanannya dari deposito ke giro adalah industri otomotif, perkayuan, jasa konstruksi, tekstil, properti, serta telekomunikasi.

"Adanya pergeseran komposisi simpanan dalam bentuk giro ini menjadi salah satu indikator pemulihan ekonomi, yang artinya mereka siap untuk kembali melakukan ekspansi," ucapnya. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA