Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Trump Sempat Tekan Departemen Kehakiman Selidiki Pemilu 2020

Rabu 16 Jun 2021 12:33 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih

Mantan Presiden AS Donald Trump dan sekutunya sempat menekan Departemen Kehakiman soal klaim curang pemilu. Ilustrasi.

Mantan Presiden AS Donald Trump dan sekutunya sempat menekan Departemen Kehakiman soal klaim curang pemilu. Ilustrasi.

Foto: AP
Trump dan sekutunya sempat menekan Departemen Kehakiman soal klaim curang pemilu

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Di pekan-pekan terakhirnya sebagai presiden, Donald Trump menekan sekutu-sekutunya di Departemen Kehakiman untuk menyelidiki klaim mengenai kecurangan pemilu 2020. Jaksa Agung yang ia tunjuk pun mengakui tidak ada bukti kecurangan dalam pemilihan presiden bulan November lalu.

Email yang dirilis Komite Pengawas House of Representatives pada Selasa (15/6) kemarin mengungkapkan detail baru bagaimana Trump, mantan kepala staf Gedung Putih, dan sekutu-sekutunya menekan pejabat pemerintah menolak hasil pemilihan 2020. Sementara pejabat Departemen Kehakiman dan Keamanan Dalam Negeri serta petugas pemilu dari Partai Republik menegaskan tidak ada kecurangan.

Saat itu mantan jaksa agung William Barr yang juga loyalis Trump jadi salah satu pejabat yang mengatakan tidak ada kecurangan pemilu. Email-email itu juga menunjukkan sejauh mana Trump meminta Pelaksana Tugas Jaksa Agung Jeffrey Rosen untuk menolak hasil pemilu setelah upaya hukumnya gagal.

Email-email yang dikirimkan ke Rosen berisi teori konspirasi yang sudah terbantahkan dan berbagai informasi palsu mengenai kecurangan pemilu. Kebohongan Trump mengenai pemilu mendorong pengunjuk rasa menerobos masuk ke Capitol Hill pada 6 Januari lalu untuk menghentikan parlemen mengesahkan kemenangan Joe Biden.

Dalam email-email itu, beberapa kali sekutu-sekutu Trump menulis mengenai teori konspirasi yang melibatkan perusahaan alat penghitungan suara, Dominion Voting Systems. Tuduhan itu kini menjadi subjek dari gugatan hukum senilai miliaran dolar.

Kepala staf Gedung Putih era Trump, Mark Meadow, meminta agar ada penyelidikan terhadap kecurangan pemilu yang disebabkan satelit dari Italia. Meadows berusaha agar Rosen menyelidiki teori-teori konspirasi dan mendorongnya bertemu dengan pengacara Trump, Rudy Giuliani, yang mengajukan konspirasi satelit Italia dan teknologi militer mengubah suara.  

Rosen meneruskan email-email Meadows ke pelaksana tugas Wakil Jaksa Agung Rich Donoghue yang membalas email itu dengan mengatakan 'benar-benar gila'. Rosen membalas kembali email Donoghue. Ia mengatakan diminta untuk bertemu dengan FBI bersama rekan Giuliani dan ia tidak bersedia.

Ia bersikeras orang-orang Trump dapat mengikuti protokol FBI biasa dengan menelepon saluran publik yang digunakan untuk menerima petunjuk dari masyarakat. Rosen mengatakan Giuliani 'terhina' dengan jawaban tersebut.

"Ditanya apakah saya mempertimbangkannya, saya menolaknya dengan datar. Saya katakan saya tidak akan memberikan perlakukan khusus pada Giuliani atau 'saksi-saksinya' dan menegaskan kembali saya tidak akan berbicara dengan Giuliani mengenai hal ini," tulis Rosen. 

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA