Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Banyak Rumah Sakit Covid-19 di Semarang Sudah Penuh

Selasa 15 Jun 2021 19:28 WIB

Red: Qommarria Rostanti

Tingkat keterisian tempat tidur untuk penanganan Covid-19 di beberapa rumah sakit sudah mencapai 100 persen (ilustrasi).

Tingkat keterisian tempat tidur untuk penanganan Covid-19 di beberapa rumah sakit sudah mencapai 100 persen (ilustrasi).

Foto: Republika
Pihak RS diimbau memindahkan pasien yang kondisinya membaik ke tempat karantina.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, mengatakan banyak rumah sakit di ibu kota Jawa Tengah itu sudah penuh. Tingkat keterisian tempat tidur untuk penanganan Covid-19 di beberapa rumah sakit sudah mencapai 100 persen.

"Kalau kabar kalau rumah sakit penuh itu iya, tetapi kalau ketersediaan tempat tidur di tempat-tempat karantina tidak," kata dia di Semarang, Selasa (15/6).

Dia meminta masyarakat tidak perlu risau dengan kondisi tersebut. Dari total 1.771 tempat tidur di seluruh rumah sakit dan tempat karantina di Kota Semarang, tingkat keterisiaannya saat ini sudah mencapai 82 persen. Menurut dia, meski terjadi kenaikan kasus Covid-19 selama dua pekan terakhir ini, angka kesembuhan di Kota Semarang juga cukup tinggi.

"Kalau misalnya tempat karantina di rumah dinas wali kota penuh, besoknya pasti berkurang karena ada yang sembuh," ujarnya.

Dia mengimbau pengelola rumah sakit untuk memindahkan pasien yang kondisinya sudah membaik ke tempat-tempat karantina untuk menambah ketersediaan tempat tidur. Pria yang akrab disapa Hendi ini juga sudah menyiapkan alternatif untuk menambah tempat-tempat karantina.

Dia mengatakan, setidaknya ada tiga lokasi yang disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan pasien Covid-10, seperti gedung asrama mahasiswa UIN Semarang, gedung milik salah satu gereja di kawasan Marina, serta bangunan sebuah rumah sakit yang sudah berdiri namun belum mengantongi izin operasional. Hendi meminta masyarakat untuk meningkatkan kedisiplinan terhadap protokol kesehatan.

"Mau varian baru atau varian lama, sama berbahayanya. Penyebarannya cepat. Semua harus lebih disiplin, lebih waspada, lebih ketat dalam protokol kesehatan," ujar Hendi.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA