Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Kapal Perang AS Gelar Misi Rutin di Laut China Selatan

Selasa 15 Jun 2021 19:04 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

Sebuah kapal perang AS (ilustrasi).

Sebuah kapal perang AS (ilustrasi).

Foto: AP/Mohammad Farooq
Kapal induk AS didampingi oleh kapal penjelajah berpeluru.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sejumlah kapal Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh kapal induk USS Ronald Reagan telah memasuki Laut China Selatan sebagai bagian dari misi rutin. Misi ini dilakukan setelah China memprotes pernyataan negara-negara Kelompok Tujuh (G7) terkait pernyataan yang mengkritik Beijing atas berbagai masalah.

Angkatan Laut AS pada Selasa (15/6) mengatakan, kapal induk itu didampingi oleh kapal penjelajah berpeluru kendali USS Shiloh dan kapal perusak berpeluru kendali USS Halsey. Angkatan Laut AS mengatakan, kelompok ni melakukan operasi keamanan maritim, yang meliputi operasi penerbangan dengan pesawat dan latihan serangan maritim. Selain itu, mereka juga melakukan pelatihan taktis terkoordinasi antara unit permukaan dan udara.

“Operasi kapal induk di Laut China Selatan adalah bagian dari kehadiran rutin Angkatan Laut AS di Indo-Pasifik," ujar Angkatan Laut AS.

China telah meningkatkan kehadiran militernya di Laut China Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Mereka membangun pulau buatan dan pangkalan udara, termasuk memasang sistem rudal dan peralatan lainnya. Kapal perang AS juga telah meningkatkan kehadiran mereka di Laut China Selatan dalam beberapa tahun terakhir.

Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin mengatakan negara itu akan memperpanjang pakta militer penting dengan AS. Ini adalah ketiga kalinya Presiden Rodrigo Duterte memperpanjang kesepakatan, yang memberikan kerangka hukum untuk latihan militer bersama dengan AS.

“Presiden menyampaikan kepada kami keputusannya untuk memperpanjang penangguhan pembatalan Visiting Forces Agreement (VFA) selama enam bulan lagi, sementara kedua belah pihak lebih lanjut membahas keprihatinannya mengenai aspek-aspek tertentu dari perjanjian tersebut,” kata Locsin.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA