Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Pawai Bendera Sayap Kanan Israel Berisiko Picu Ketegangan

Selasa 15 Jun 2021 18:53 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

Warga Palestina bentrok dengan petugas polisi Israel saat kunjungan anggota sayap kanan Knesset Israel ke lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem timur, Senin, 10 Mei 2021.

Warga Palestina bentrok dengan petugas polisi Israel saat kunjungan anggota sayap kanan Knesset Israel ke lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem timur, Senin, 10 Mei 2021.

Foto: AP/Sebastian Scheiner
Otoritas Israel setujui Pawai Bendera yang disebut sebagai kemenangan atas Yerusalem.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Kelompok sayap kanan Israel menggelar pawai bendera di Yerusalem Timur pada Selasa (15/6). Pawai ini berisiko memicu ketegangan dengan warga Palestina dan mengobarkan kembali kekerasan antara pasukan Israel dan kelompok militan Gaza.

"Kami memperingatkan dampak berbahaya yang mungkin timbul dari kekuatan pendudukan yang mengizinkan pemukim ekstremis Israel, untuk melaksanakan Pawai Bendera di Yerusalem yang diduduki," kata Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh.

Sebelumnya polisi Israel tidak memberikan izin kepada kelompok sayap kanan untuk menggelar Pawai Bendera. Hal ini menimbulkan potensi munculnya kembali ketegangan antara kelompok Hamas di Gaza dan pasukan Israel. Kedua pihak saat ini sedang dalam gencatan senjata setelah bertempur selama 11 hari pada 10 Mei lalu.

Sedikitnya 260 warga Palestina tewas dan ribuan terluka dalam serangan udara Israel yang berlangsung selama 11 hari di Jalur Gaza pada 10 Mei. Sebanyak 66 anak-anak dan 39 wanita termasuk di antara mereka yang meninggal dunia dalam serangan itu. Di sisi lain, 13 warga Israel juga tewas oleh tembakan roket Palestina dari Jalur Gaza. Pertempuran itu menjadi yang paling sengit dalam beberapa tahun terakhir.

Namun belakangan, otoritas Israel mengizinkan Pawai Bendera dengan syarat rute pawai harus diubah. Pawai Bendera juga mendapatkan kecaman dari kelompok Hamas yang memperingatkan jika pawai berlangsung, maka akan ada permusuhan baru. Wakil Pemimpin Hamas di Gaza Khalil Al-Hayya memperingatkan bahwa, jika pawai bendera tetap dilakukan maka pertempuran baru akan dimulai. Pada saat yang sama, sayap militer Hamas menyatakan agar pawai bendera tidak melukai Al-Aqsa.

Kelompok sayap kanan Israel menuduh pemerintah menyerah pada Hamas dengan mengubah rute pawai. Media Israel melaporkan bahwa, polisi mengizinkan peserta pawai untuk berkumpul di luar Gerbang Damaskus Kota Tua. Tetapi mereka dilarang melewati Muslim Quarter, yang mayoritas dihuni oleh warga Palestina.

Tantangan PM baru

Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya polisi Israel mengizinkan Pawai Bendera yang digelar pada Selasa pukul 18.30 waktu setempat. Pawai Bendera menjadi tantangan langsung buat Perdana Menteri baru Israel Naftali Bennett. Pada Senin (14/6), menteri keamanan internal Bennett menyetujui Pawai Bendera.

"Waktunya telah tiba bagi Israel untuk mengancam Hamas dan bukan bagi Hamas untuk mengancam Israel," kata anggota parlemen sayap kanan terkemuka Itamar Ben-Gvir.

Bersamaan dengan Pawai Bendera, warga Palestina juga bersiap untuk menggelar protes pada pukul 18.00 waktu setempat di Jalur Gaza. Faksi Hamas dan Fatah telah meminta warga Palestina untuk bekumpul di Kota Tua untuk melawan pawai.

Sementara itu, militer Israel telah membuat persiapan untuk menghadapi kemungkinan eskalasi di Gaza selama pawai berlangsung. Media Israel melaporkan, Kedutaan Besar AS di Yerusalem melarang staf dan keluarga mereka memasuki Kota Tua pada saat pawai berlangsung. Utusan PBB untuk Timur Tengah Tor Wennesland mendesak semua pihak untuk menghindari provokasi yang dapat kembali menimbulkan pertempuran di Jalur Gaza.

"Ketegangan meningkat lagi di Yerusalem, ketika PBB dan Mesir secara aktif terlibat dalam memperkuat gencatan senjata. Kami mendesak semua pihak terkait untuk bertindak secara bertanggung jawab, dan menghindari provokasi yang dapat mengarah pada konfrontasi lagi," ujar Wennesland.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA