Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Gejala-Gejala dari Pasien Terinfeksi Corona Varian Delta

Selasa 15 Jun 2021 18:50 WIB

Red: Andri Saubani

Pasien Covid-19 berolahraga saat menjalani karantina di Rumah Sakit Lapangan Kogabwilhan II Indrapura (RSLKI) di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (11/6/2021). RSLI Surabaya mengonfirmasi merawat tiga pasien terinfeksi virus corona varian Delta. (ilustrasi)

Foto:
Pasien varian Delta di RSLI Surabaya bergejala ringan dengan CT value di bawah 18.

Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM, dr. Gunadi mengatakan, dari 34 sampel diperiksa, 28 terkonfirmasi sebagai varian Delta. Dari kasus yang terjadi di Kudus menunjukkan kemungkinan besar adanya transmisi lokal varian delta.

"Sebelumnya sudah terdeteksi beberapa kasus, namun acak dan sekarang sudah jadi klaster di Kudus. Artinya, kemungkinan besar sudah terjadi transmisi lokal di Indonesia, khususnya di Kudus. Tidak menuntup kemungkinan juga ke luar Kudus," kata Gunadi, Senin (14/6).

Gunadi menambahkan, varian Delta telah terbukti menimbulkan dua dampak yaitu lebih cepat menular serta mampu mempengaruhi respons sistem imun manusia. Transmisi yang begitu cepat telah terlihat dari kasus di India dan Kudus itu sendiri.

"Varian delta bisa menurunkan respons sistem imun kita terhadap infeksi Covid, baik respons imun yang ditimbulkan infeksi alamiah maupun vaksin," ujar Gunadi.

Mengingat dampak yang ditimbulkan cukup serius, Gunadi meminta masyarakat tetap disiplin menjalankan prokes pencegahan Covid-19. Berlaku bagi seluruh masyarakat, termasuk yang telah melakukan vaksinasi karena reinfeksi masih bisa terjadi.

"Prokes harus diperketat. Meski sudah vaksin, prokes tidak boleh longgar," kata Gunadi.

Namun, menurut epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, penerapan prokes saja tak cukup untuk menangkal varian baru Covid-19. Dicky mendesak pemerintah berinovasi dalam program pencegahan dan penanganan Covid-19.

"Harus berbeda responsnya karena enggak cukup hanya dengan prokes, enggak ada bukti ilmiahnya cukup kendalikan (Covid-19) hanya gunakan prokes saja," kata Dicky kepada Republika, Selasa (15/6).

Dicky menyarankan pemerintah Indonesia meniru kebijakan negara lain dalam menghadapi varian Delta. Salah satunya peningkatan testing, tracing, treatment (3T).

"Negara yang berhasil hadapi varian ini gunakan tiga kombinasi yaitu lakukan penguatan vaksinasi secara masif, 3T dan lockdown. Kombinasi itu kalau sudah meledak, enggak ada cara lain. Ini yang bedakan dia dengan varian lain," ujar Dicky.

In Picture: Lonjakan Kasus Baru Covid-19 di Jakarta

photo
Petugas mengendarai bus sekolah yang membawa pasien Covid-19 tanpa gejala di Graha Wisata Ragunan, Jakarta, Senin (14/6). DKI Jakarta menjadi salah satu daerah yang mengalami peningkatan kasus Covid-19 paling besar dalam sepuluh hari terakhir dengan peningkatan sebesar 302 persen. Republika/Putra M. Akbar - (Republika/Putra M. Akbar)
 

 



Terlepas dari itu, Dicky mengimbau masyarakat supaya tak panik berlebihan dengan ledakan kasus infeksi di sejumlah wilayah. Ia menyarankan kewaspadaanlah yang sepatutnya ditingkatkan oleh publik.

"Bukan berarti tidak perlu takut, tapi bukan juga abai karena harus serius, harus khawatir," imbau Dicky.

Pada hari ini, pemerintah menegaskan bahwa vaksinasi Covid-19, dari berbagai produsen, masih cukup ampuh untuk menekan laju penularan virus. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan, efektivitas vaksinasi di Indonesia masih di atas 50 persen.

"Apakah vaksin di sini memiliki efektivitas masih tinggi atau tidak? Secara keseluruhan, sekarang ini masih. Karena efektivitas di atas 50 persen masih terpenuhi dan penelitian lebih lanjut harus selalu dilakukan agar vaksin yang dipakai adalah vaksin yang afektif," kata Wiku dalam keterangan pers, Selasa (15/6).

Pernyataan Wiku mengenai tingkat efektivitas vaksinasi tersebut merespons merebaknya varian Delta. Varian ini terbukti mendominasi lonjakan kasus di beberapa daerah, seperti Kudus, Bangkalan, dan DKI Jakarta.

"Pada prinsipnya setiap virus pasti akan mengalami mutasi karena dalam rangka untuk survival dia. Dan proses mutasi dia, bisa berlangsung terus menerus apabila potensi untuk menular tersedia. Atau penularan tetap terjadi," kata Wiku.

Pertanyaan mengenai efikasi dan efektivitas vaksin Covid-19 terhadap mutasi virus, ujar Wiku, juga ditanyakan seluruh ahli di dunia. Menurutnya, pemerintah tetap terus memantau perkembangannya dan memastikan vaksinasi yang dilakukan memberikan proteksi kolektif.

Dalam rekap variant of concerns yang dilansir Kementerian Kesehatan, dari total 1.989 sekuens yang diteliti, ditemukan ada 145 mutasi baru. Di antaranya, 36 varian Alpha asal Inggris dan 104 varian Delta asal India.

photo
Tren Covid-19 Meningkat, Zona Merah di Indonesia Bertambah - (Republika)
 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA