Thursday, 10 Rabiul Awwal 1444 / 06 October 2022

Pemkab Sleman akan Bubarkan Hajatan Berkonsep Prasmanan

Rabu 16 Jun 2021 04:27 WIB

Rep: wahyu suryana/ Red: Hiru Muhammad

Warga mengikuti tes Covid-19 dengan swab antigen massal di Turi, Sleman, Yogyakarta, Senin (14/6). Sebanyak 160an warga dites Covid-19 massal dengan swab antigen menyusul adanya 5 KK yang positif terpapar Covid-19. Usai tes Covid-19 warga melakukan isolasi mandiri menunggu hasil tes swab antigen.

Warga mengikuti tes Covid-19 dengan swab antigen massal di Turi, Sleman, Yogyakarta, Senin (14/6). Sebanyak 160an warga dites Covid-19 massal dengan swab antigen menyusul adanya 5 KK yang positif terpapar Covid-19. Usai tes Covid-19 warga melakukan isolasi mandiri menunggu hasil tes swab antigen.

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Banyak aspek yang harus ditingkatkan dan salah satunya kedisiplinan pelaksanaan.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN--Pemkab Sleman menjadi kabupaten/kota dengan kasus positif covid yang masih cukup tinggi, bahkan kerap menjadi yang tertinggi di DIY. Karenanya, sejumlah pengetatan dalam penanganan dilakukan, termasuk penambahan shelter isolasi.

Sekda Sleman, Harda Kiswaya menilai, sebenarnya Peraturan Gubernur DIY terkait aktivitas masyarakat sudah cukup aplikatif. Tapi, memang masih banyak aspek-aspek yang harus ditingkatkan dan salah satunya kedisiplinan pelaksanaan.

Baik kedisiplinan petugas dalam penindakan maupun kedisiplinan masyarakat dalam kepatuhan. Menurut Harda, semua berperan dalam pencegahan penyebaran covid, dan kedisiplinan itu yang saat ini Sleman ingin betul-betul tingkatkan kualitasnya.

Dalam pelaksanaan acara-acara masyarakat, misal, sesuai Pergub DIY hanya boleh dihadiri dengan kapasitas 50 persen. Jadi, kata Harda, hajatan-hajatan tidak dapat dilaksanakan dengan konsep prasmanan dan makanan harus dibawa pulang."Sudah mulai dipraktekkan, laporan Gugus Tugas Kapanewon, Kalurahan, kalau ada prasmanan langsung dibubarkan. Seperti kemarin di kalurahan saya ada hajatan prasmanan, langsung ditutup, dibubarkan, begitu ijab tidak boleh diteruskan," kata Harda, Selasa (15/6).

Kepala Dinkes Sleman, Joko Hastaryo menuturkan, mereka memang memprediksi usai Lebaran sekitar 2-3 pekan akan terjadi peningkatan kasus. Ia bersyukur, walau tetap ada peningkatan kasus positif bisa dibilang belum terlalu signifikan.

Joko menilai, peningkatan cukup tinggi terjadi satu pekan terakhir yang kasus positifnya mencapai di atas 700 kasus. Bahkan, ditambah klaster baru yang ada di Lapas Narkotika II A Yogyakarta sudah mencapai 1.000 kasus positif Covid-19.

Maka itu, ia mengapresiasi aktifnya shelter-shelter yang ada di kapanewon maupun di kalurahan. Serta, mulai aktinya Shelter Covid UII yang menambah tempat isolasi khusus di Sleman selain Asrama Haji dan Rusunawa Gemawang."Shelter BRI sedang proses, tahap demi tahap tetap kita siapkan, ini bagian dari antisipasi dalam memberikan pelayanan karena sebenarnya tidak sedikit warga yang tidak mau diisolasi terlalu jauh dari rumahnya," ujar Joko.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA