Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Temuan 145 Kasus Varian Alfa, Beta, Delta dan Sebarannya

Selasa 15 Jun 2021 17:15 WIB

Red: Andri Saubani

Seorang tenaga kesehatan berada di ruang isolasi Rajawali yang merawat ABK Kapal Hilma Bulker asal Filipina yang terpapar COVID-19 varian India di RSUD Cilacap, Jateng, Jumat (28/5). Kemenkes telah mengonfirmasi bahwa varian baru Corona yakni Alfa, Beta, dan Delta telah ditemukan di Indonesia. (ilustrasi)

Seorang tenaga kesehatan berada di ruang isolasi Rajawali yang merawat ABK Kapal Hilma Bulker asal Filipina yang terpapar COVID-19 varian India di RSUD Cilacap, Jateng, Jumat (28/5). Kemenkes telah mengonfirmasi bahwa varian baru Corona yakni Alfa, Beta, dan Delta telah ditemukan di Indonesia. (ilustrasi)

Foto: ANTARA/Idhad Zakaria
Hingga 13 Juni, ditemukan 145 kasus terkait varian baru mutasi corona di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Rr Laeny Sulistyawati, Sapto Andika Candra, Antara

Ragam varian hasil dari mutasi virus corona terkonfirmasi telah ada di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi total sebanyak 145 kasus terkait varian baru Covid-19 ditemukan.

Baca Juga

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, dari 1.989 total sekuens yang diperiksa, telah dideteksi 145 sekuens variant of concern atau mutasi virus B117, B1351, dan B1617 yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

"Mutasi ini di antaranya satu di Batam, Kepulauan Riau, kemudian dua di Medan dan Tanjung Balai di Sumatra Utara yaitu dua kasus B117 atau alfa," katanya saat dihubungi Republika, Selasa (15/6).

Kemudian, dia melanjutkan, di Sumatra Selatan di Palembang, Prabumulih, dan Penukal Abab Lematang Ilir sebanyak empat kasus terkait mutasi virus yaitu satu B117 (Alfa) dan tiga B1617 (Delta). Kemudian satu di Dumai, Riau yaitu B117 atau Alfa.

Kemudian, Kemenkes juga mencatat total 48 kasus varian baru di DKI Jakarta yang terdiri dari 24 mutasi virus Alfa, empat mutasi B1351 (Beta), dan 20 kasus B1617 atau Delta.

"Mutasi terbanyak terjadi di Jawa Tengah yaitu Brebes, Cilacap, Kudus sebanyak 76 kasus, rinciannya satu B117 Alfa dan 75 kasus B1617 Delta," ujarnya.

Kemudian, dia melanjutkan, ditemukan juga dua kasus B117 Alfa di Karawang Jawa Barat. Selanjutnya, tiga mutasi virus juga terjadi di Surabaya, Jawa Timur yang terdiri dari dua B117 Alfa dan satu B1351 Beta.

Kemenkes juga mencatat terjadi satu kasus mutasi di Denpasar di Bali yaitu B117. Tiga kasus mutasi virus di Gunung Mas dan Palangka Raya yaitu B1617 varian Delta. Kemenkes juga mencatat, terjadi satu kasus B117 Alfa di Tapin di Kalimantan Selatan. Terakhir adalah tiga kasus B1617 Delta di Samarinda, Kalimantan Timur.

Ia menambahkan, kebanyakan mutasi virus ini adalah kasus lama, kecuali di Kudus. Terkait tingginya mutasi virus di Kudus, Nadia menjelaskan akibat dari transmisi lokal, mobilitas yang tinggi dan protokol kesehatan (prokes) yang kendor. Apalagi, dia melanjutkan, Kudus adalah tujuan mudik dan destinasi wisata rohani.

In Picture: Tingkat Keterisian di RS Wisma Atlet Capai 80,68 Persen

photo
Suasana Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (14/6/2021). Berdasarkan data pengelola RSDC Wisma Atlet, tingkat keterisian atau bed occupancy rate (BOR) pasien positif COVID-19 mencapai 80,68 persen yang dirawat pada tower 4, 5, 6, dan 7. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww. - (ANTARA FOTO)
 

 

Namun, ia memastikan adanya mutasi virus ini tidak mengganggu efikasi vaksin. Untuk mengatasi penularan virus ini, dia melanjutkan, Kemenkes masif melakukan pengujian dan pelacakan serta mempercepat vaksinasi.

"Di satu sisi, Kemenkes juga meminta masyarakat menghindari kasus Covid-19 termasuk mutasinya dengan tetap disiplin protokol kesehatan dan menghindari kerumunan," katanya.

Khusus untuk varian Delta atau B1617.2 yang diyakini menjadi penyebab ledakan kasus Covid-19 di DKI Jakarta, Kudus, dan Bangkalan saat ini, pemerintah mengaku belum bisa menelusuri secara rinci asal mula varian itu ke Indonesia. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menjelaskan, proses whole genome sequencing sebagai cara untuk mengidentifikasi mutasi Covid-19, belum bisa dilakukan secara merata di seluruh daerah.

Uji ilmiah untuk memperoleh cetak biru dari genetika virus corona ini pun belum bisa dilakukan secara masif di Indonesia.

"Memang (WGS) belum cukup meng-cover seluruh wilayah Indonesia dan belum dilakukan secara detail tentang penelusuran asal dari virus ini kemudian menyebar ke mana," kata Wiku dalam keterangan pers, Selasa (15/6).

Untuk mengidentifikasi sebaran mutasi Covid-19 dan mengetahui secara rinci asal muasal masuknya varian B1617.2 ke Indonesia, maka pemerintah perlu menggelar WGS dengan sampel yang banyak. Wiku sendiri yakin seiring berjalannya waktu, data rinci mengenai genetika Covid-19 di Tanah Air bisa diperoleh secara lengkap demi memperoleh pemetaan sebaran penularan yang akurat.

"Suatu saat dengan jumlah yang lebih banyak kita bisa menelusuri dari mana virus itu berasal, mulai dari masuk sampai ke dalam suatu tempat tertentu. itu perlu penelitian lebih lanjut. Pada saat ini kita belum bisa menjelaskan itu karena prosesnya masih panjang," kata Wiku.

Pemerintah sendiri sebelumnya menyatakan akan mempercepat proses WGS dari yang biasanya dua pekan, menjadi hanya sepekan. Tahapan WGS ini dianggap penting karena menjadi kunci pemahaman pemerintah dalam menentukan kebijakan pengendalian Covid-19.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA