Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Angka Stunting di Kota Tasikmalaya Meningkat

Rabu 16 Jun 2021 03:04 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Hiru Muhammad

Rumah Zakat terus kempanyekan Desa Bebas Stunting.

Rumah Zakat terus kempanyekan Desa Bebas Stunting.

Foto: Rumah Zakat
Setidaknya ada 11 instansi yang terlibat mengatasi malasah stunting di Tasikmalaya

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA--Angka stunting di Kota Tasikmalaya mengalami peningkatan selama 2020. Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya mencatat, terdapat 17,58 persen atau 7.731 balita yang mengalami stuntung selama 2020, bertambah dibandingkan kasus pada 2019 yang hanya ada 10,95 persen atau 5.373 balita.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Suryaningsih mengatakan, peningkatan angka stunting di Kota Tasikmalaya kemungkinan akibat dari pandemi Covid-19. Sebab, selama pandemi Covid-19 layanan posyandu secara tatap muka sempat dihentikan. Layanan posyandu dialihkan secara daring. "Itu bisa jadi salah satu penyebab kurangnya pemantauan," kata dia, Selasa (16/6).

Ia mengatakan, pihaknya akan terus melakukan penanganan untuk menekan angka stunting. Menurut dia, penanganan stunting bukan hanya dilakukan oleh dinas kesehatan, melainkan juga sejumlah dinas terkait lainnya. Menurut dia, setidaknya ada 11 instansi yang terlibat untuk mengatasi malasah stunting di Kota Tasikmalaya.

Suryaningsih menjelaskan, penanganan stunting sejatinya harus dilakukan sejak calon orang tua berusia remaja. Artinya, para remaja harus diajarkan betul mengenai proses reproduksi. "Kita juga sudah membentuk pos pelayanan anak remaja untuk tempat konsultasi para remaja terkait kondisi kesehatannya," kata dia.

Ia menambahkan, ketika mengandung, ibu hamil juga harus rutin memeriksakannl kondisi kandungannya. Minimal, ibu hamil harus kontrol sebanyak enam kali selama masa kehamilan. Sebab, apabila bayi telah lahir dengan kondisi stunting, penanganannya akan lebih sulit. "Jadi kalau dari awal kan bisa diawasi, apakah ada kecenderungan gizi buruk atau tidak. Jadi bisa dicegah dari awal," kata dia.

Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Tasikmalaya, Muhammad Yusuf menargetkan, angka stunting dapat ditekan sampai 30 persen hingga 2024. Karena itu, ia meminta semua dinas terkait bekerja sama untuk mengatasi masalah stunting. "Kita harus terus sosialisasi, terutama dari remaja diberi pemahaman agar ketika menikah dalam kondisi sehat," kata dia.

Ia menegaskan, penanganan stunting pada dasarnya merupakan tugas semua pihak. Artinya, penanganan stunting bukan hanya dilakukan oleh pemerintah, melainkan masyarakat juga harus terlibat."Salah satunya, dengan tetap menjaga pola hidup. Jangan terlalu banyak memakan makanan cepat saji, apalagi untuk ibu hamil," kata dia.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA