Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Bisakah Indonesia Belajar dari Efek Varian Delta di Inggris?

Selasa 15 Jun 2021 11:06 WIB

Red: Indira Rezkisari

Pasien dibawa menuju RS Royal London, Inggris, Senin (14/6). PM Boris Johnson menunda pengumuman pelonggaran kebijakan lockdown hingga empat pekan lagi karena kenaikan kasus Covid-19 akibat varian Delta yang tinggi.

Pasien dibawa menuju RS Royal London, Inggris, Senin (14/6). PM Boris Johnson menunda pengumuman pelonggaran kebijakan lockdown hingga empat pekan lagi karena kenaikan kasus Covid-19 akibat varian Delta yang tinggi.

Foto: EPA-EFE/ANDY RAIN
Sebanyak 90 persen pasien Covid-19 baru di Inggris terdeteksi dengan varian Delta.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Idealisa Masyrafina, Rizky Suryarandika, Sapto Andika Candra, Antara

Varian Delta yang pertama kali ditemukan di India bisa dibilang menjadi momok baru bagi upaya penanganan Covid-19. Tak hanya Indonesia yang mewaspadai varian Delta, Inggris juga dibuat ekstra waspada dalam berhadapan dengan varian Delta.

Sejauh ini varian Delta dinilai memiliki dampak besar pada efektivitas vaksin di Inggris. Dr Michael Head, peneliti senior di bidang kesehatan global di University of Southampton Inggris, mengatakan sementara laju pemberian vaksin Inggris sudah maju, namun masih ada seperempat dari populasi orang dewasa yang belum menerima suntikan vaksin Covid-19.

"Ini (vaksin) masih melindungi dengan sangat baik terhadap penyakit parah, terhadap rawat inap dan kematian, tetapi satu dosis vaksin hanya memberi Anda perlindungan sekitar 30 persen, dua dosis antara 60 hingga 80 persen. Jadi masuk akal untuk menahan kasus. Serendah-rendahnya sampai program vaksinasi itu jauh lebih maju,” kata Dr Head dilansir di Euronews, Selasa (15/6).

"Kami tidak ingin efektivitas vaksin berkurang lebih jauh," tambahnya.

Dia berbicara pada hari Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menunda pencabutan penuh pembatasan Covid-19 di Inggris karena meningkatnya kasus varian Delta. Lebih dari 90 persen kasus Covid-19 di Inggris adalah pasien varian Delta.
 
Di seluruh Eropa, belum ada cukup data untuk mengonfirmasi apakah varian Delta dominan di benua tersebut. Tetapi Dr Head mengatakan mengingat bagaimana varian lain telah menyebar begitu mudah di seluruh dunia, diperkirakan varian ini menjadi sangat umum di sebagian besar negara Eropa,  terutama ketika masyarakat mulai terbuka lagi dan orang-orang bercampur dengan lebih bebas.

Namun sejauh ini, dia memperingatkan, banyak negara yang menerapkan pembatasan perjalanan terlalu terlambat. "Kita dapat mengambil pelajaran dari pendekatan proaktif yang telah kita lihat di banyak Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru terhadap kontrol perbatasan dan pembatasan perjalanan." katanya.

Menurutnya, hal tersebut adalah kuncinya. Begitu sinyal pada grafik meningkat, maka mungkin sudah terlambat untuk menerapkan pembatasan itu, atau langkah tersebut hanya akan memiliki dampak yang lebih kecil. Jika tidak, akan ada peningkatan rawat inap, yang akan berdampak pada bidang kesehatan lainnya.

"Itu berarti pasien lain dengan kanker, kardiologi atau diabetes tidak dapat pergi ke rumah sakit," tambahnya.

Selain itu, ada juga long-covid, dengan sekitar 10 persen orang mengalami gejala covid yang lama selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan di luar infeksi awal mereka. "Konsekuensi Covid-19 secara lebih umum dan khusus dengan varian Delta ini sangat luas, jadi masuk akal untuk mengurangi kasus kita sebanyak mungkin." ujarnya.

Guru Besar FKUI, Tjandra Yoga Aditama, memantau perkembangan varian Delta Covid-19 di Inggris. Ia berharap perkembangan varian itu di Inggris dapat menjadi bahan antisipasi di Tanah Air.

Prof Tjandra menyebut di Inggris sudah ada 42.323 kasus varian Delta, naik 70 persen dari minggu sebelumnya, atau naik 29.892 kasus hanya dalam waktu satu minggu saja. Bahkan, data terakhir Inggris menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen kasus baru Covid-19 di negara itu kini adalah varian Delta. Posisi varian Delta menggantikan varian Alfa (B117) yang semula dominan di Inggris.

"Kalau pola ini juga akan terjadi di negara kita maka tentu bebannya akan berat jadinya," kata Prof Yoga dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (15/6).

Prof Yoga mendapati varian Delta di Inggris ternyata 60 persen lebih mudah menular daripada varian Alfa. Waktu penggandaannya (“doubling time”) berkisar antara 4,5 sampai 11,5 hari.

"Akan baik kalau juga ada data tentang berapa besar (doubling time) dari varian Delta yang kini ada di negara kita, termasuk tentunya laporan terakhir dari Kudus ini," ujar Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara 2018-2020 itu.
 
Laporan dari Inggris pada 11 Juni 2021 juga menunjukkan varian Delta berpengaruh menurunkan efektivitas vaksin dibandingkan varian Alfa. Pada mereka yang baru dapat vaksin satu kali maka terjadi penurunan efektivitas perlindungan terhadap gejala sebesar 15 persen sampai 20 persen. Menurut Prof Tjandra, perlu diamati kemungkinan dampak seperti ini, apalagi program vaksinasi memang sedang terus digalakkan.

"Hanya saja tentu kita tidak akan membandingkan varian Delta dengan varian Alfa seperti yang Inggris lakukan, karena varian Alfa bukanlah varian yang dominan di negara kita sebelum ini," ucap Prof Tjandra.

Terakhir, Prof Tjandra mendapati Inggris menggunakan novel genotyping test untuk mendeteksi adanya varian Delta. Tes ini dapat memberi hasil dalam 48 jam saja.

"Hasilnya kemudian dikonfirmasi dengan pemeriksaan whole genome sequencing dan ternyata hasilnya memang positif, oleh PHE disebut sebagai extremely accurate," ucap Prof Tjandra.








BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA