Monday, 16 Zulhijjah 1442 / 26 July 2021

Monday, 16 Zulhijjah 1442 / 26 July 2021

Perhatikan Ini Saat Tolong Orang Terkena Serangan Jantung

Selasa 15 Jun 2021 08:36 WIB

Red: Indira Rezkisari

Atlet bulu tangkis Markis Kido meninggal akibat terkena serangan jantung.

Atlet bulu tangkis Markis Kido meninggal akibat terkena serangan jantung.

Foto: PBSI
Bantu orang terkena serangan jantung dalam posisi membaringkannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam dua hari terakhir kabar mengejutkan tentang atlet yang terkena serangan jantung muncul. Kabar terakhir datang dari legenda bulu tangkis nasional Markis Kido.

Serangan jantung bisa muncul kapan saja. Karena itu, penting memahami pertolongan pertama kepada seseorang yang mengalami serangan jantung.

Saat melakukan pertolongan pertama pada kasus serangan jantung hingga tak sadarkan diri, seperti dialami Markis Kido saat bermain bulu tangkis pada Senin (14/6), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya jangan mendudukkan dia, sebaliknya letakkan korban serangan jantung dalam posisi terbaring.

"Seorang yang kolaps atau pingsan atau tidak sadarkan diri jangan didudukkan, harusnya dibaringkan," ujar dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Vito A Damay, Selasa (15/6).

Vito mengatakan, membaringkan orang yang terkena serangan jantung membuat aliran darah ke otaknya lebih baik karena posisi sejajar dengan jantung yang memompa darah. "Kalau perlu malah kakinya diangkat 30 cm agar bisa membantu aliran balik sirkulasi darah ke jantung agar dipompa ke seluruh tubuh, termasuk ke otak. Hal itu akan membantu orang yang pingsan cepat sadar penuh," kata dia.

Selain itu, jangan berikan dia minum hingga benar-benar sadar dan bisa minum sendiri. Hal ini untuk menghindari korban tersedak dan semakin berat kondisinya. Air bisa masuk ke saluran napas karena dia tak sadar dan menelan spontan. Jadi, tunggu dia sadar dulu, lalu beri dia minum. Cara ini lebih aman.

Vito mengingatkan, saat seseorang pingsan atau hilang kesadaran mendadak, ia perlu dibangunkan walau dia tidak bisa sadar penuh, tetapi masih ada napas spontan dan nadinya berdenyut.

"Kalau henti jantung dipanggil tidak akan respons, napas spontan tidak ada atau mungkin mengorok dan denyut pun tidak teraba, maka segera lakukan CPR," tutur dia.

Salah satu metode CPR (cardiopulmonary resuscitation) atau RJP (resusitasi jantung paru) yang bisa dilakukan bila bukan seorang profesional kesehatan, ialah pijat jantung.

Saat melakukannya, pahami teknik yang benar. Menurut Vito, orang awam, bahkan atlet perlu paham teknik CPR yang benar, apalagi setelah kasus serangan jantung hingga tak sadarkan diri yang menimpa beberapa figur publik, seperti gelandang tim nasional Denmark, Christian Eriksen.

PERKI sendiri mengadakan seminar untuk awam khusus untuk CPR ini agar dapat menolong rekan atau orang di sekitar mereka yang terkena serangan jantung atau henti jantung. CPR bertujuan agar kasus serangan jantung yang sebenarnya bisa diselamatkan tak berujung kematian.

Jika tertarik mendapatkan pengetahuan mengenai hal ini, bisa menghubungi nomor (021) 57852940. "Kemarin saya menanyakan PSSI, sekarang saya menanyakan PBSI. Maukah kira-kira kerja sama dengan PERKI untuk pelatihan basic life support awam," demikian kata Vito.

Di sisi lain, pengetahuan mengenai ciri serangan atau henti jantung yang terjadi begitu cepat juga perlu dipahami. Namun, lebih dari itu, penting juga untuk mencegahnya jangan sampai terjadi.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA