Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Pemerintah Selandia Baru Minta Maaf atas Serangan pada 1970

Senin 14 Jun 2021 22:00 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

 Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern. Selandia Baru minta maaf atas sejarah bangsa yang dikenal sebagai Serangan Fajar. Ilustrasi.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern. Selandia Baru minta maaf atas sejarah bangsa yang dikenal sebagai Serangan Fajar. Ilustrasi.

Foto: EPA
Selandia Baru minta maaf atas sejarah bangsa yang dikenal sebagai Serangan Fajar

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Menteri untuk masyarakat Pasifik, Aupito William Sio, dan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern secara resmi meminta maaf atas peristiwa sejarah bangsa yang dikenal sebagai Serangan Fajar. Pada pertengahan 1970-an orang-orang Kepulauan Pasifik menjadi sasaran deportasi.

Dalam peristiwa Serangan Fajar itu, pihak berwenang menggerebek rumah penduduk secara agresif untuk menemukan, menghukum, dan mendeportasi orang yang tinggal dengan batas waktu melebihi izin. Penggerebekan sering terjadi pada saat fajar atau larut malam. Sio menjadi emosional ketika dia menyampaikan permintaan maaf.

"Kami sebagai komunitas merasa diundang untuk datang ke Selandia Baru. Kami menanggapi panggilan untuk mengisi tenaga kerja yang dibutuhkan, dengan cara yang sama seperti kami menanggapi panggilan tentara pada tahun 1914," kata Sio.

Sio mengingat hari-hari yang menakutkan selama masa kecilnya, ketika petugas polisi yang memegang anjing gembala Jerman muncul di rumah keluarganya sebelum fajar. Petugas polisi menyorotkan senter ke wajah mereka sementara ayahnya berdiri tak berdaya.

Ardern mengatakan saat itu orang-orang yang tidak terlihat seperti orang kulit putih Selandia Baru harus membawa identitas untuk membuktikan bahwa mereka tidak overstay. Mereka kerap dihentikan secara acak di jalan atau bahkan di sekolah atau gereja. 

Ardern mengatakan orang-orang Pasifik sering diseret ke pengadilan dengan masih mengenakan piyama mereka dan tanpa perwakilan yang layak. “Mereka juga menjadi sasaran praktik yang benar-benar tidak manusiawi, yang benar-benar meneror orang-orang di rumah mereka,” kata Ardern.

Ardern menjelaskan ketika catatan imigrasi terkomputerisasi pada 1977, diketahui 40 persen dari orang Inggris atau Amerika yang tinggal di Selandia Baru dengan melebihi batas waktu tidak pernah ditargetkan untuk dideportasi.

“Penggerebekan, dan apa yang mereka wakili, menciptakan luka yang dalam. Dan sementara kita tidak dapat mengubah sejarah kita, kita dapat mengakuinya, dan kita dapat berusaha untuk memperbaiki yang salah," kata Ardern.

Permintaan maaf secara resmi akan disampaikan dalam acara peringatan pada 26 Juni di Auckland. Ardern mengatakan ini adalah ketiga kalinya pemerintah Selandia Baru membuat permintaan maaf.

Sebelumnya Selandia Baru menyatakan permintaan maaf karena mengenakan pajak masuk pada imigran China pada 1880-an. Pemerintah Selandia Baru juga meminta maaf karena menyebarkan pandemi influenza yang mematikan ke Samoa pada 1918 sehingga menewaskan lebih dari seperlima populasi.

Baca Juga

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA