Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Salah Satu Asmaul Husna: Al-Quddus, Yang Maha Suci

Selasa 15 Jun 2021 06:40 WIB

Red: Ani Nursalikah

Salah Satu Asmaul Husna: Al-Quddus, Yang Maha Suci

Salah Satu Asmaul Husna: Al-Quddus, Yang Maha Suci

Foto: republika
Kesucian Allah itu kekal, tidak tergantung pada ruang dan waktu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai sifat Allah, Al-Quddus berarti suci dari segala kekurangan, kelemahan dan kesalahan, termasuk di dalamnya suci dari sangkaan, pemikiran dan imajinasi manusia. Sebab, tidak jarang manusia membayangkan dan menggambarkan Allah dengan keterbatasan akal pikirannya sendiri, sehingga Allah sering disamakan dengan dan diperlakukan seperti makhluk-Nya. Padahal, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syura: 11)

Kesucian Allah itu kekal, tidak tergantung pada ruang dan waktu. Semua makhluk di langit dan di bumi pun mengagungkan kesucian Allah dan mensucikan-Nya dari segala kekurangan. Sebagaimana firman Allah, “Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Yang Maha Raja Diraja, Yang Maha Suci (Al Quddus), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Jumu’ah:1).

Baca Juga

Konsekuensi dari keyakinan Allah Yang Maha Suci tercermin dalam iktikad manusia un­tuk membersihkan dan mensucikan jasmani, hati dan akalnya. Dari sisi jasmaniah, Rasu­lu­llah memuji orang yang menjaga dirinya untuk se­lalu dalam keadaan berwudhu. Orang yang marah dan keruh hatinya juga disarankan untuk ber­wudhu. Artinya, kesucian jasmaniah akan mempengaruhi kesucian hati, jiwa dan pikiran seseorang.

Secara personal, kesucian diri diawali dari niat. Yaitu, niat untuk selalu berada dalam ridla-Nya. Jika niat seseorang mengerjakan kebaikan tidak karena Allah, maka di akhirat ia tidak akan mendapatkan apapun dari Allah. Bisa jadi ia akan mendapatkan keuntungan di dunia, namun ia tidak akan mendapatkan keberkahan hidup dari Allah. Niat suci dalam hati seseorang menjadi dasar bagaimana seseorang berperilaku terhadap dirinya dan orang lain.

 

sumber : Suara Muhammadiyah
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA