Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Dongkrak Popularitas Filsuf, SAINS Launching Kitab Filsafat

Selasa 15 Jun 2021 00:23 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Gita Amanda

Filsuf Persia Naser Khosrow, (ilustrasi). Kajian filsafat di kalangan dunia pendidikan di Indonesia dinilai sangat minim

Filsuf Persia Naser Khosrow, (ilustrasi). Kajian filsafat di kalangan dunia pendidikan di Indonesia dinilai sangat minim

Foto: IBNA
Kajian filsafat di kalangan dunia pendidikan di Indonesia dinilai sangat minim

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sadra Internasional Institute (SAINS) melalui departemen riset dan publikasi melaunching buku yang berjudul Kitab Filsafat. Buku karya Ayatullah Mishbah Yazdi, menjadi bahan dikusi dalam bedah buku tentang apa karier sebenarnya seorang lulus filsafat (filsuf) yang digelar pada Kamis, (10/6).

Dosen STF Dryarkara Jakarta Dr Budhy Munawar Rahman, MA, mengungkapkan tentang minimnya kajian filsafat di kalangan dunia pendidikan di Indonesia. Menurutnya, sebagai sebuah ilmu, filsafat tidak terlalu populer dalam masyarakat di Indonesia.

Bahkan, katanya, kadang-kadang masyarakat mencela ilmu Filsafat sebagai ilmu yang tidak berguna. Dikarenakan manfaatnya tidak terlihat secara langsung.

"Dan yang lebih mencolok dalam mentalitas populer, apa sebenarnya profesi seorang filsuf itu? Ia bekerja di mana? Juga, apa yang dijanjikan filsafat (maksudnya tentu saja, filsuf) di tengah kompleksitas problem sosial kemanusiaan dewasa ini," katanya

Mungkin kata Budhy Munawar Rahman, karena ketidakpopuleran filsafat ini, perguruan tinggi di Indonesia, yang mengkhususkan diri pada filsafat murni hanya ada tiga. Di antaranya Fakultas Filsafat UGM Yogayakarta (untuk pengembangan filsafat Pancasila), Pascasarjana bidang Filsafat UI (untuk filsafat budaya) dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (bidang filsafat murni).

"Jumlah fakultas filsafat yang  sangat sedikit ini, bandingkan dengan fakultas ekonomi atau Teknik, justru disebabkan karena begitu rendahnya minat pengkajian filsafat di Indonesia," katanya.

Budhy Munawar Rahman, menyampaikan, hadirnya buku Kitab Filsafat ini adalah menyadarkan kembali posisi manusia yang dikaruniakan akal sebagai alat nalar dari Tuhan.  Filsafat adalah penggunaan atas nalar manusia.

"Semakin kritis kita menggunakan nalar, semakin bernilai secara filosofis," katanya.

Karena memang manusia perlu menggunakan nalarnya hingga batas yang dimungkinkannya. Hal ini agar ia bisa mendapatkan kejelasan tentang arti hidupnya.

Lantas, apakah masih terbuka peluang masa depan dari filsafat? Hal ini kata Budhy Munawar Rahman, merupakan pertanyaan retorik, karena kita mengetahui bahwa suatu hal yang tidak mungkin untuk membuang filsafat. Karena problem kehidupan kita itu sendiri, adalah problem filsafat, yang tidak cukup dijawab oleh ilmu saja.

"Tetapi perlunya perhatian kembali kepada kearifan, menjadikan filsafat perlu menghadirkan diri secara baru dalam dunia dewasa ini," katanya.
         
Sementara iu, pembahas lainnya, Dekan FUPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr. H.Robbi Habiba Abror, M.Hum mengatakan bahwasanya, dalam kasus di mana banyak buku-buku filsafat diterbitkan, jurusan-jurusan filsafat dibuka, diskusi, seminar dihelat di mana-mana. Namun tetap saja, filsafat bukan sesuatu yang menarik perhatian publik dibanding isu politik, ekonomi dan sebagainya

"Mulai dari buku-buku banyaknya  buku filsafat disesaki oleh istilah-istilah teknis filsafat yang membingungkan, terutama untuk pemula hingga tujuan pengajaran filsafat tak terdeskripsi sehingga para pelajar tidak mampu memahami dan memetik manfaat dari belajar filsafat," katanya

Menurutnya, hadirnya Kitab Filsafat terbitan Sadra Press ini adalah menjawab sebagian keprihatinan atas permasalahan di atas. Minimal, Kitab Filsafat ini bisa menjadi pengantar sekaligus pemandu yang baik mengenal dunia filsafat sekaligus. "Karena mudah dicerna oleh orang awam sekali pun," katanya.

Kitab Filsafat bisa jadi wahana memasyarakatkan filsafat dan memfilsafatkan masyarakat. Diakui atau tidak, di era kita ini, peran filsafat tak segereget di masa lampau. Peran filsafat banyak diambil alih oleh ilmu pengetahuan.

Filsafat dianggap sebagai ilmu usang, tak fungsional, tak memberi profesi yang menjanjikan, tidak relevan. Klaim filsafat sebagai ibu segala ilmu pengetahuan, dipertanyakan, digugat. Apakah filsafat tinggal omong kosong, perbincangan pelipur lara, arena debat-debatan, menjadi sekedar nama jurusan di perguruan tinggi atau mata kuliah wajib yang diabaikan.

"Hadirnya buku Kitab Filsafat ini diharap bisa menjawab sekaligus mengembalikan fungsi utama dari ilmu filsafat itu sendiri dikalangan akademisi dan masyarakat pada umumnya," katanya

Diskusi bedah buku yang dilakukan melalui aplikasi Zoom meeting ini diikuti oleh berbagai kalangan diantaranya para staf pengajar filsafat, mahasiswa, peneliti dan masyarakat umum. Acara ini berjalan dengan baik serta mendapat antusias yang luar biasa dari para peserta. Hal ini ditandai dengan hampir lebih dari 110 peserta online yang hadir.
 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA