Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Biden Ucapkan Selamat ke Pemerintahan Baru Israel

Senin 14 Jun 2021 08:05 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

 Presiden Joe Biden.

Presiden Joe Biden.

Foto: AP/Alex Brandon
AS berkomitmen sepenuhnya untuk bekerja sama dengan Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memberikan ucapkan selamat pada dua pemimpin koalisi pemerintah Israel yang baru, Naftali Bennett dan Yair Lapid. Biden mengatakan, ia menantikan untuk memperkuat hubungan 'kuat dan tahan lama' antara dua negara.

"Pemerintahan saya sepenuhnya berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah Israel yang baru untuk meningkatkan keamanan, stabilitas dan perdamaian bagi rakyat Israel, Palestina dan masyarakat di seluruh kawasan," kata Biden dalam pernyataannya, Senin (14/6).

Bennett yang berasal dari sayap kanan akan menjabat selama dua dari empat tahun masa jabatan perdana menteri. Lalu Lapid akan melanjutkan dua tahun sisa masa jabatan itu. Mantan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang tersingkir setelah 12 tahun berkuasa salah satu politisi paling berpengaruh di Israel.

Ia menjabat sebagai perdana menteri dari tahun 1996 hingga 1999 lalu duduk dikursi itu lagi dari 2009 hingga 2021. Netanyahu politisi paling berpengaruh di generasinya. Dengan suaranya yang berat dan bahasa Inggris yang baik ia menjadi wajah Israel di panggung internasional.

Netanyahu menggunakan status globalnya untuk menghentikan perlawanan rakyat Palestina guna memiliki negara sendiri. Ia mengatakan, gagasan tersebut akan membahayakan keamanan Israel. Ia menyelesaikan isu Palestina dengan menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab menggunakan musuh bersama mereka yakni Iran.

Di dalam negeri, Netanyahu berulang kali gagal meraih kemenangan menentukan dalam beberapa pemilu terakhir. Ia juga sedang menjalani sidang korupsi.

Sudah lama oposisinya mengecam retorikanya yang memecah belah, taktik politiknya yang licik dan mengutamakan kepentingannya sendiri di atas kepentingan negara. Netanyahu berharap dapat kembali berkuasa usai menggelar vaksinasi Covid-19 tercepat di dunia.  

Namun dukung terhadapnya tetap merosot setelah oposisi-oposisinya menyebutkan sebagai 'Perdana Menteri Kejahatan'. Mereka juga menuduhnya gagal mengatasi krisis virus Corona dan dampak ekonomi yang ditimbulkan pandemi.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA