Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Thailand Bantah Blokir Ekspor Vaksin AstraZeneca

Ahad 13 Jun 2021 21:04 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nashih Nashrullah

Thailand prioritaskan vaksin untuk negaranya sendiri. Ilustrasi astrazeneca

Thailand prioritaskan vaksin untuk negaranya sendiri. Ilustrasi astrazeneca

Foto: AP/Sakchai Lalit
Thailand prioritaskan vaksin untuk negaranya sendiri

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK – Thailand membantah kabar yang menyebut negaraitu memblokir ekspor vaksin Covid-19 AstraZeneca. 

Hal itu disampaikan setelah Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menuding Bangkok menyimpan sendiri dosis vaksin yang diproduksinya. 

Baca Juga

“Thailand tidak memblokir ekspor AstraZeneca. Itu urusan produsen yang mengelola,” kata wakil juru bicara pemerintah Thailand, Traisuree Taisarananakul, lewat akun Twitter pribadinya pada Sabtu (12/6) malam. 

Traisuree tidak merinci apakah yang dia maksud adalah AstraZeneca atau vaksin pabrikan Thailand, Siam Bioscience.

Kementerian Kesehatan Thailand belum memberikan komentar atas hal tersebut, Kedua perusahaan vaksin terkait juga menolak mengomentari alasan penundaan ekspor.  

Pada Jumat (11/6) lalu, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan pemerintahannya telah memesan 10 juta dosis vaksin AstraZeneca.

Sebagian besar dosis yang dipesan diproduksi di Thailand. Namun Tsai menyebut Thailand memprioritaskan agar vaksin tersebut digunakan di negara tersebut. 

Thailand dan Taiwan sama-sama menghadapi lonjakan kasus Covid-19 dalam beberapa pekan terakhir. Hal itu terjadi setelah keduanya sempat berhasil mengendalikan penyebaran wabah. 

Filipina dan Malaysia telah mengungkapkan bahwa vaksin yang mereka pesan ke AstraZeneca kemungkinan mengalami penundaan dalam pengiriman. Hal itu karena terdapat kendala pada proses produksi. 

Distribusi vaksin AstraZeneca di Asia Tenggara bergantung pada 200 juta dosis yang dibuat oleh Siam Bioscience. Itu merupakan perusahaan milik raja Thailand yang pertama kali membuat vaksin.

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA