Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Rehabilitasi Hutan dan Lahan Dukung Ekosistem Danau Toba

Ahad 13 Jun 2021 20:35 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Menteri LHK, Siti Nurbaya saat melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Sumatera Utara (12/6/2021), meninjau langsung pembangunan Persemaian Modern Toba di Desa Sibisa, Kab. Toba.

Menteri LHK, Siti Nurbaya saat melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Sumatera Utara (12/6/2021), meninjau langsung pembangunan Persemaian Modern Toba di Desa Sibisa, Kab. Toba.

Foto: klhk
Sejak 2015 telah dilakukan rehabilitasi 5.098 ha lahan di sekitar Danau Toba.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, Sabtu (12/6)  meninjau pembangunan Persemaian Modern Toba di Desa Sibisa, Kab. Toba. Siti meninjau beberapa lokasi di sekitar Danau Toba untuk rencana penanaman dalam rangka rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), diantaranya di Desa Simangulampe, Kec. Baktiraja dan Desa Pearung, Kec. Lintong Ni Huta, Kab. Humbang Hasundutan.

Upaya RHL di daerah tangkapan air (DTA) Danau Toba, sejak tahun 2015 hingga 2021 telah dilaksanakan kegiatan RHL seluas 5.098 Hektare (Ha). Di DTA Danau Toba ini juga telah dibangun Kebun Bibit Rakyat (KBR) sebanyak 30 unit dan Kebun Bibit Desa (KBR) sejumlah 18 unit untuk menyediakan bibit pohon. Jumlah bibit pohon yang telah disalurkan untuk RHL sejak tahun 2015 hingga saat ini telah mencapai lebih kurang 3 juta bibit pohon.

Baca Juga

KLHK saat ini sedang membangun sejumlah persemaian modern di beberapa wilayah di Indonesia yang dapat memproduksi bibit dalam skala besar. Persemaian modern yang tengah dan yang akan dibangun terdapat di beberapa wilayah antara lain, persemaian modern di Kalimantan Timur (120 Ha), di sekitar kawasan pariwisata Danau Toba, Sumatera Utara (37,25 Ha), Labuan Bajo, NTT (30 Ha), Mandalika, NTB (32,25 Ha), dan Likupang, Sulawesi Utara (30,33 Ha).

 

Siti menyampaikan apabila terdapat lokasi RHL yang melibatkan masyarakat dalam Usaha Pengelolaan Sumberdaya Alam (UPSA), maka harus dilakukan secara utuh.

"Misalnya pada bagian paling atas bentang alam yang harusnya terdapat pepohonan, maka tidak boleh terputus garis pepohonannya. Selain itu, harus diperhatikan juga saluran air jatuh dapat dibuatkan embung bawah atau embung atas untuk menahan air tidak langsung masuk ke Danau Toba," ucap Menteri Siti.

Sehari sebelumnya (11/6) di Parapat, tepi Danau Toba, Siti bertemu dan berdiskusi dengan beberapa bupati di Provinsi Sumatra Utara yang daerahnya berada di sekitar Danau Toba. Bupati yang hadir diantaranya adalah Bupati Toba, Bupati Humbang Hasundutan, Bupati Simalungun, Bupati Dairi. 

Pertemuan ini dimaksudkan Menteri Siti untuk mengetahui kondisi yang terjadi di lapangan. Selain itu, pertemuan ini juga untuk menyamakan visi dan langkah dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan di kawasan Destinasi Wisata Super Prioritas Danau Toba.

 

Pada akhir kunjungan kerjanya, Menteri Siti berdialog dengan organisasi masyarakat sipil Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) di Parapat (13/6). Dialog ini untuk mendengarkan keterangan dari perwakilan masyarakat terkait persoalan yang terjadi di sekitar Danau Toba. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA