Ahad 13 Jun 2021 17:37 WIB

Ungkap Kamp Muslim Uighur, Jurnalis India Diapresiasi

Jurnalis India diganjar penghargaan Pulitzer investigasi kamp Muslim Uighur

Rep: Puti Almas/ Red: Nashih Nashrullah
Sejumlah jurnalis asing memotret gedung perkantoran terpadu milik Pemerintah Kota Turban, Daerah Otonomi Xinjiang, China, Jumat (23/4/2021). Pemerintah China membantah klaim asing berdasarkan citra satelit yang menyebutkan  bahwa gedung tersebut merupakan penjara bagi warga dari kelompok etnis minoritas Muslim Uighur.
Foto: ANTARA/M. Irfan Ilmie
Sejumlah jurnalis asing memotret gedung perkantoran terpadu milik Pemerintah Kota Turban, Daerah Otonomi Xinjiang, China, Jumat (23/4/2021). Pemerintah China membantah klaim asing berdasarkan citra satelit yang menyebutkan bahwa gedung tersebut merupakan penjara bagi warga dari kelompok etnis minoritas Muslim Uighur.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI — Jurnalis asal India, Megha Rajagopalan memenangkan Pulitzer, penghargaan jurnalisme tertinggi Amerika Serikat (AS) atas karyanya berupa laporan investigasi inovatif yang memanfaatkan teknologi satelit yang mengungkap kamp-kamp penahanan massal  di Cina terhadap Muslim Uighur dan etnis minoritas lainnya. 

Penghargaan dalam kategori liputan internasional yang dibagikannya kepada dua rekannya dari media internet, BuzzFeed News, diumumkan pada Jumat (11/6) oleh Dewan Pulitzer. 

Baca Juga

Jurnalis lain yang berasal dari India, Neil Bedi juga memenangkan Pulitzer dalam kategori liputan lokal untuk cerita investigasi yang ditulis dengan seorang editor di Tampa Bay Times yang mengungkap penyalahgunaan wewenang oleh petugas penegak hukum di Florida untuk melacak anak-anak.  

Rajagopalan dan rekan-rekannya menggunakan citra satelit dan simulasi arsitektur 3D untuk mendukung wawancaranya dengan puluhan mantan tahanan dari kamp-kamp penahanan. Di kamp tersebut, terdapat hingg satu juta warga Muslim dari Uighur dan etnis minoritas lainnya yang diasingkan. "Saya benar-benar terkejut, saya tidak menyangka akan mendapatkan (penghargaan) ini," ujar Rajagopalan. 

Menurut publikasi tersebut, Rajagopalan dan rekan-rekannya, Alison Killing dan Christo Buschek, mengidentifikasi 260 kamp penahanan. Identifikasi dapat dilakukan setelah membangun basis data yang sangat banyak dari sekitar 50 ribu situs yang mungkin membandingkan gambar yang disensor  Pemerintah Cina dengan perangkat lunak pemetaan tanpa sensor. 

Rajagopalan, yang sebelumnya melaporkan dari Cina tetapi dilarang pergi ke Kazhakstan untuk mewawancarai mantan tahanan Kamp yang melarikan diri ke sana. 

Sepanjang upaya untuk melaporkan ini, jurnalis itu, harus menghadapi tindakan keras dari Pemerintah Cina.  

Serangkaian berita yang dilaporkan Rajagopalan berdasarkan bukti-bukti menunjukkan pelanggaran Beijing terhadap hak asasi manusia warga Uighur, yang oleh beberapa pejabat AS dan negara-negara Barat lainnya disebut sebagai genosida. 

Ini adalah tahun ke-105 Penghargaan Pulitzer yang diberikan oleh dewan di Sekolah Pascasarjana Jurnalisme Universitas Columbia di New York yang mengakui karya luar biasa.

Sebagai pengakuan atas populernya jurnalisme warga di era internet, seorang remaja bernama Darnella Frazier yang bukan berprofesi sebagai jurnalis juga dianugerahi penghargaan khusus Pulitzer atas keberaniannya dalam merekam pembunuhan George Floyd, warga Afrika-Amerika yang meninggal saat ditangkap petugas kepolisian di Minneapolis.  

Sumber: news18

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement