Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Muslim Pertanyakan Konten Film Serangan Christchurch

Ahad 13 Jun 2021 09:42 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Ani Nursalikah

Muslim Pertanyakan Konten Film Serangan Christchurch. Teror Masjid Christchurch. Bunga dan tribut lain diletakkan di luar Islamic Center di Kilbirnie, Wellington, Selandia Baru, Sabtu (16/3).

Muslim Pertanyakan Konten Film Serangan Christchurch. Teror Masjid Christchurch. Bunga dan tribut lain diletakkan di luar Islamic Center di Kilbirnie, Wellington, Selandia Baru, Sabtu (16/3).

Foto: New Zealand Herald via AP
Narasi film tidak berpusat pada Muslim korban serangan Christchurch.

REPUBLIKA.CO.ID, CANTERBURY -- Sebuah film tentang serangan masjid di Christchurch pada 2019 rencananya akan dibintangi aktris Australia Rose Byrne sebagai Perdana Menteri Jacinda Ardern. Outlet media Hollywood, Deadline, melaporkan film yang hingga kini diberi judul They Are Us ini akan fokus pada tanggapan Ardern terhadap serangan dan pesan belas kasih dan persatuan.

Meski demikian, rencana pembuatan film tersebut masih menuai pertanyaan dan penolakan dari beberapa pihak. Juru bicara Asosiasi Muslim Canterbury Abdigani Ali mengatakan serangan itu masih terasa menakutkan bagi masyarakat dan banyak teror yang menghantui di sekitar peristiwa tragis 15 Maret.

Baca Juga

"Meskipun pengakuan perdana menteri kami terhadap serangan ini memang pantas, kami mempertanyakan momen dan apakah film itu tepat di saat ini," kata Ali dikutip di Radio New Zealand, Ahad (13/6).

Dia mengatakan pembuat film ini perlu memastikan telah membaca temuan Komisi Penyelidikan Kerajaan mengenai serangan tersebut. Hal ini diperlukan untuk memahami jika badan intelijen Selandia Baru memiliki fokus eksklusif pada ancaman teroris dari komunitas Muslim, bahkan sebelum serangan.

"Kami menyadari cerita terkait 15 Maret perlu diceritakan. Tetapi kami ingin memastikan itu dilakukan dalam hal yang tepat, otentik, dan sensitif," ujarnya.

Ia juga mengatakan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di Selandia Baru, utamanya dalam hal undang-undang ujaran kebencian. Mereka disebut perlu mengakui adanya islamofobia dan prasangka institusional sebelum sebuah film blockbuster keluar dan menyatakan betapa hebatnya pekerjaan yang telah dilakukan oleh Selandia Baru ini.

Juru bicara Dewan Wanita Islam Anjum Rahman mengatakan dia sangat tidak nyaman dengan gagasan pembuat film ini. Ia menilai film ini mengambil keuntungan dari serangan masjid Christchurch dan narasinya tidak berpusat pada korban.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA