Sabtu 12 Jun 2021 10:25 WIB

Barakarama Project, Wadahi Seni Musik Etnik Nusantara

Barakarama Project berharap bisa menggelar diskusi bagaimana membangun toleransi

Pentolan Elpamas, Baruna Priyotomo dan Totok Tewel aktif dalam Barakarama Project. Sebuah proyek yang mengangkat kembali keunikan dan kekayaan bunyi etnik di nusantara,
Foto: istimewa
Pentolan Elpamas, Baruna Priyotomo dan Totok Tewel aktif dalam Barakarama Project. Sebuah proyek yang mengangkat kembali keunikan dan kekayaan bunyi etnik di nusantara,

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Menyebut nama Elpamas, tentunya tidak terlepas dari sosok Baruna Priyotomo dan Totok Tewel. Peran keduanya sebagai vokalis dan gitaris telah membawa Elpamas mendapat tempat bagi pecinta musik rock di Tanah Air. 

Namun, kini kedua pentolan Elpamas tersebut aktif dalam Barakarama Project.“Ini adalah sebuah proyek yang mengangkat kembali keunikan dan kekayaan bunyi etnik di nusantara, menyatukannya dengan lirik yang memuat semangat kebangsaan dan nasionalisme yang tinggi,” kata Baruna beberapa waktu lalu. 

Project ini bisa terbentuk awalnya karena  pertemuan kembali Baruna  dengan Totok Tewel. “Saya diajak nyanyi live streaming di fans pages Facebook Mas Totok  Tewel," katanya.  Usai  pertemuan itu, terpikir untuk membentuk band lagi namanya Tabarto 19.  Tapi setelah diskusi panjang lebar, ide membuat band berubah arah lebih membesar dengan menjadi wadah Barakarama Project.

Baruna  yang pernah merilis album solo “THY Name in My Title” pada tahun 2014 ini punya alasan mengapa harus etnik dan mengapa harus bermuatan lirik nasionalisme. “Dalam darah saya, ada darah pejuang. Eyang saya dulu pejuang kemerdekaan  di Yogjakarta, di jaman Pak Ahmad Yani,” ungkap Baruna memberi alasan. 

Baruna juga pernah tampil di rock opera show bersama alm Jockie Suryoprayogo, bersinergi dengan Teater Koma Riantiarno, dan diajak Addie MS menjadi tamu  dalam peementasan Twilite Orchestra. “Mungkin   benar,  di atas  umur 40 an,  dengan jam terbang yang tinggi, hasrat menggelorakan  cinta  kebangsaaan, mengangkat seni etnik negeri sendiri  sudah tidak bisa dibentung lagi,” kata pria kelahiran Jakarta, 16 Juli 1967 ini.

Selaku pendiri, Baruna merancang project ini sebagai wadah untuk melakukan eksplorasi seni, tak sekadar hanya musik, tapi juga  termuat unsur tari, teater,  dan  yang pasti kami ingin mengangkat seni tradisi Indonesia. 

Formasi Barakarama Project   saat ini adalah Baruna (vokal), Riffy Putri - Yuyun - Bunga (vokal), Toto Tewel dan Youslam (gitar), Ardy (bas), Estu Pradana (keyboards), Ihsan (biola), Hendrikus ( perkusi ) dan Rere (drums). Rere  yang duduk di posisi drummer   menyebut, titik berat Barakarama Project adalah, mereka beralih dari industri musik yang mainstream  menjadi penuh unsur etnik. “Kita ingin merawat pluralisme, keanekaragaman budaya, bahasa, suku dan agama Indonesia, unsur etnik di sini menjadi penting, agar kita tidak asing dengan budaya kita sendiri yang  ternyata sangat kaya!” kata Rere

Rere berharap dalam waktu mendatang Barakarama Project bisa menggelar diskusi tentang  bagaimana membangun toleransi.  “Kami sudah merancang berdialog dengan PBNU, misalnya, dengan Buya Said, untuk membahas soal kebudayaan dan merawat kebhinekaan!”

Sementara itu, Riffi Putri, salah satu vokalis yang sangat matang jadi penyanyi cover version di kafe  kafe  dengan melantunkan  lagu lagu rock Barat mengatakan, saat bergabung  dengan Project  ini, ia menemukah hal baru yang menakjubkan. 

Baruna dalam Barakarama Project, menulis lagu  dan lirik. Aransemennya digarap bersama dalam pola workshop oleh belasan musisi. Seperti  pada single yang baru dirilis yakni  Nyanyian Bangsa. Nyanyian Bangsa  sudah  masuk  ke digital platform Spotify, Joox, Deezer, iTunes, Langit Musik, dan videonya bisa disaksikan di YouTube. “Lagu ini  saya tulis bersama Adi Prasetio, lalu kami buat workshop aransemen  dengan melibatkan Ucok (biola) dan kawan-kawan musisi dari Yogya,” kata Baruna.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement