Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Jabar Rawan Bencana, Warga Diimbau Kenali Potensi Bencana

Kamis 10 Jun 2021 20:38 WIB

Rep: arie lukihardianti/ Red: Hiru Muhammad

Warga bersama anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) melakukan simulasi penyelamatan korban becana di kawasan Gua Dayueh, Desa Tamansari, Karawang, Jawa Barat, Kamis (10/6/2021). Kegiatan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dan perangkat desa dalam memberikan pertolongan terhadap korban bencana dan menjadikan desa sadar bencana.

Warga bersama anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) melakukan simulasi penyelamatan korban becana di kawasan Gua Dayueh, Desa Tamansari, Karawang, Jawa Barat, Kamis (10/6/2021). Kegiatan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dan perangkat desa dalam memberikan pertolongan terhadap korban bencana dan menjadikan desa sadar bencana.

Foto: ANTARA FOTO/Muhamad Ibnu Chazar
Kewaspadaan masyarakat akan potensi bencana dapat menekan risiko korban jiwa, harta.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--Provinsi Jawa Barat (Jabar) rawan bencana. Semua jenis kebencanaan, mulai dari banjir, longsor, gempa bumi, sampai tsunami, berpotensi terjadi. Oleh karena itu, menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jabar Dani Ramdan, berharap kewaspadaan dan kesadaran masyarakat akan potensi bencana harus terus ditingkatkan. 

Dani mengatakan, selain untuk mencegah terjadi bencana, kewaspadaan dan kesadaran masyarakat akan potensi bencana dapat meminimalisasi risiko korban meninggal dunia dan kerugian harta benda. 

Pemerintah Provinsi Jabar sendiri, kata dia, sudah menyusun kajian risiko bencana dan peta rawan bencana sampai ke tingkat desa. Itu dilakukan agar masyarakat memahami kondisi kebencanaan di lingkungannya.

"Peta rawan bencana tingkat desa itu disusun bersama-sama dengan masyarakat. Karena masyarakat tahu ada potensi bencana apa saja. Lalu, digambar. Tentunya di bawah bimbingan petugas BPBD dan instansi lain yang punya pengalaman dalam menyusun peta rawan bencana," ujar Dani, Kamis (10/6).

Menurut Dani, dalam penyusunan peta rawan bencana, pihaknya berkolaborasi dengan berbagai pihak. Mulai dari Badan Informasi Geospasial (BIG), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sampai Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 

" Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi terkait gunung berapi. BMKG menyangkut cuaca dan iklim. Itu biasanya kami menyusun bersama-sama di tingkat pusat dikoordinasikan dengan BNPB  untuk peta rawan bencana tingkat nasional," katanya. 

Di tingkat provinsi, kata dia,  menyusun kajian risiko bencana dievaluasi setiap dua tahun sekali, diturunkan di tingkat kabupaten dengan skala peta yang lebih detil. Kalau di provinsi 1:100.000, di pusat 1: 500.000, kalau di tingkat kabupaten kota 1:25.000, di tingkat desa 1:5.000. Jadi, setiap rumah kelihatan.

Masyarakat, kata dia, dapat mengakses informasi peta rawan bencana di lingkungannya melalu situs resmi BNPB, BPBD Provinsi, maupun BPBD Kabupaten/Kota. Selain itu, masyarakat dapat melihat peta rawan bencana di kantor desa masing-masing. 

"BPBD kabupaten/kota sudah menyampaikan dokumen-dokumen (peta rawan bencana) tingkat kecamatan dan desa. Sebenarnya masyarakat bisa cek di kantor-kantor pemerintahan tingkat desa," kata Dani.

Dani menyatakan, jika masyarakat sudah mengetahui potensi bencana di lingkungannya, mereka dapat membuat perencanaan, seperti  menyusun jalur evakuasi, titik kumpul, dan tempat aman manakala bencana terjadi. Sehingga, masyarakat dapat terhindar dari bencana. 

"Dengan peta rawan bencana itu, masyarakat dapat melakukan pengurangan risiko bencana, kenapa ada longsor ternyata banyak tebing, tebingnya gundul tidak ada tanaman, maka ditanami tanaman keras. Atau ada saluran air yang tidak terkelola, drainasenya itu harus dikelola," katanya. 

Dani menjelaskan, 35 persen keselamatan masyarakat saat bencana terjadi ditentukan oleh kesiapsiagaan dan kemampuan diri sendiri. Kemudian, 32 persen keselamatan masyarakat ditentukan oleh keluarga. Anggota keluarga harus mengetahui apa yang mesti dilakukan saat bencana datang. 

"Komunitas itu 28 persen keselamatan bencana. Kami, BPBD, Tim SAR, dan sebagainya, itu hanya 1,7 persen. Kami saat kebencanaan belum tentu ada petugas di lapangan. Sedangkan, penyelamatan golden time-nya itu 0-30 menit," katanya. 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA